Sistem Pertahanan Tubuh Manusia

Sistem kekebalan tubuh yaitu suatu sistem kompleks yang terdiri dari sel, jaringan, dan organ yang saling bekerjasama untuk melindungi tubuh dari penyakit.

Meski begitu, ada banyak hal mengejutkan yang mungkin tidak kamu ketahui tentang sistem pertahanan tubuh kamu.

Ingin tahu itu apa? Makanya, langsung simak yuk ulasannya dibawah ini!


Pengertian Pertahanan Tubuh Manusia

Pengertian Pertahanan Tubuh Manusia

Sistem kekebalan tubuh atau sistem imun yaitu suatu sistem dalam tubuh yang berperan dalam menjaga tubuh dari patogen dan ancaman bahaya lainnya.

Dengan kata lain, sistem tersebut menjaga kekebalan tubuh (imunitas).

Patogen yaitu istilah ilmiah yang merujuk pada segala macam mikroorganisme yang bisa menyerang tubuh, seperti bakteria, protozoa, virus, prion, dan lainnya.

Sistem kekebalan tubuh juga berperan dalam proses inflamasi (radang), membantu membunuh sel-sel abnormal seperti kanker, dan melawan infeksi.

Baca juga : Sistem Saraf pada Manusia


Mekanisme Sistem Pertahanan Tubuh

Mekanisme Sistem Pertahanan Tubuh

Berdasarkan cara mempertahankan diri dari penyakit, sistem pertahanan tubuh digolongkan menjadi dua, yaitu:

1. Sistem Pertahanan Tubuh Nonspesifik Eksternal

Sistem pertahanan tubuh nonspesifik eksternal dibagi menjadi 4 bagian, diantaranya yaitu:

A. Pertahanan Secara Fisik

Pertahanan secara fisik dilakukan oleh lapisan terluar tubuh yaitu kulit dan membran mukosa.

Lapisan terluar kulit tersusun atas sel-sel mati yang rapat, jadi menyulitkan bagi mikroorganisme patogen buat masuk kedalam tubuh.

B. Pertahanan Secara Mekanik

Pertahanan secara mekanik seperti terjadi pada rambut hidung dan silia.

Rambut hidung, berfungsi menyaring udara dari partikel-partikel berbahaya atau dari mikroorganisme yang kurang menguntungkan.

Sedangkan,

Silia yang ada pada trakea, berfungsi menyapu partikel-partikel berbahaya yang terperangkap dalam lendir dan keluar bersama air ludah.

C. Pertahanan Secara Biologis

Pertahanan secara biologis seperti adanya populasi bakteri yang tidak berbahaya yang ada pada permukaan kulit dan membran mukosa.

Bakteri-bakteri itu berkompetisi dengan bakteri patogen dalam memperoleh nutrisi, jadi perkembangan bakteri patogen terhambat.

D. Pertahanan Secara Kimia

Pertahanan secara kimia dilakukan oleh cairan sekret seperti keringat dan minyak yang dihasilkan oleh membran mukosa dan kulit yang mengandung zat-zat kimia yang menghambat pertumbuhan mikroorganisme.

Sedangkan air liur (saliva), air mata, dan sekresi mukosa mengandung enzim lizosim yang bisa membunuh bakteri.

Enzim lizosim bisa menguraikan dinding bakteri dan patogen dengan cara hidrolisis sehingga sel pecah dan mati.

2. Sistem Pertahanan Tubuh Nonspesifik Internal

A. Inflamasi

Inflamasi yaitu respon tubuh terhadap kerusakan jaringan yang disebabkan antara lain tergores atau benturan keras.

Adanya kerusakan jaringan menyebabkan patogen dan mikroorganisme lainnya bisa masuk kedalam tubuh dan menginfeksi sel-sel tubuh.

Sel-sel tubuh yang rusak akan melepaskan signal kimiawi yaitu histamin dan prostaglandin.

Sel yang berfungsi melepaskan histamin adalah mastosit yang berkembang dari salah satu jenis sel darah putih yaitu basofil.

Adanya signal kimiawi berupa histamin menyebabkan terjadinya pelebaran pembuluh darah dan peningkatan kecepatan aliran darah dan menyebabkan permeabilitas pembuluh darah meningkat.

Meningkatnya permeabilitas pembuluh darah menyebabkan neutrofil, monosit, dan eosinofil berpindah dari pembuluh darah ke jaringan yang mengalami infeksi.

Kemudian, neutrofil dan eosinofil mulai memakan patogen, dan monosit akan mulai bergerak menghancurkan patogen.

Neutrofil dalam darah putih yaitu yang terbanyak(sekitar 60-70%), neutrofil meninggalkan pembuluh darah dan menuju jaringan yang terinfeksi dan membunuh mikroba.

Sel monosit (sekitar 5% dari keseluruhan sel darah putih) bergerak menuju jaringan yang terinfeksi dan berubah jadi makrofag (Big eaters) dan memakan patogen dengan cara fagositosis.

Makrofag berbentuk mirip amoeba yang memiliki pseudopodia buat menarik mikroba dan menghancurkan enzim pencernaannya.

Walaupun begitu beberapa mikroba telah berevolusi dengan cara mikrofag seperti beberapa bakteri yang memiliki kapsul yang membuat pseudopodia makrofag tidak bisa menempel.

Selain neutrofil dan monosit ada juga eosinofil (sekitar 1,5% dari keseluruhan sel darah putih).

Eosinofil memiliki aktivitas fagosit yang terbatas, tapi memiliki enzim penghancur dalam sitoplasmanya yang bisa menembus pertahanan cacing parasit.


Struktur Sistem Pertahanan Tubuh

Struktur Sistem Pertahanan Tubuh

Sistem pertahanan tubuh melibatkan peran limfosit dan antibodi. Dibawah ini penjelasannya:

1. Limfosit

Limfosit terdiri dari dua jenis, yaitu limfosit B (sel B) dan limfosit T (sel T).

Dua jenis limfosit ini memiliki fungsi yang berbeda-beda, walaupun kalo diamati dengan mikroskop menunjukan struktur yang sama.

A. Sel B

Limfosit B terbentuk dan dimatangkan didalam sumsum tulang dan masuk kedalam aliran darah menuju jaringan limfatik.

Sel B bertanggung jawab terhadap produksi antibodi sebagai kekebalan humoral. Sel B bisa dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu:

  • Sel B plasma, berfungsi buat memproduksi antibodi.
  • Sel B pengingat, berfungsi mengingat antigen yang pernah masuk kedalam tubuh dan menstimulasi sel Limfosit B plasma kalo terjadi infeksi kedua.
  • Sel B pembelah, berfungsi membentuk sel B plasma dan sel B pengingat dalam jumlah yang banyak dan cepat.

B. Sel T

Limfosit T dibentuk di dalam sumsum tulang dan menuju ke kelenjar timus untuk mengalami diferensiasi lebih lanjut.

Sel T berperan dalam kekebalan selular yaitu dengan menyerang sel penghasil antigen secara langsung.

Sel T juga membantu produksi antibodi oleh sel B plasma, sel T dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu:

  • Sel T pembunuh (sel T sitotoksik), berfungsi menyerang patogen dan mikroorganisme asing yang masuk kedalam tubuh, yaitu sel tubuh yang terinfeksi.
  • Sel T pembantu (sel T penolong), berfungsi menstimulasikan pembentukan sel T jenis lainnya dan sel B plasma, serta mengaktifkan bisa mengaktifkan makrofag buat melakukan fagositosis.
  • Sel T supressor, berfungsi menghentikan respon imun yaitu setelah infeksi berhasil ditanggulangi.

2. Antibodi

Pada setiap mikroorganisme dan substansi asing yang masuk ke tubuh pada permukaannya ada senyawa protein yang berperan sebagai antigen.

Antigen meliputi molekul yang dimiliki oleh mikroorganisme dan juga substansi asing tersebut.

Antigen yang masuk ke tubuh akan menyerang tubuh buat membentuk antibodi.

Antibodi yaitu senyawa protein yang berfungsi melawan antigen dengan cara mengikatnya, setelah diikat antigen akan ditangkap dan dihancurkan oleh makrofag.

Antibodi bekerja secara spesifik buat suatu antigen tertentu seperti antibodi cacar cuma cocok buat antibodi cacar.

A. Struktur Antibodi

Pada antibodi setiap molekul tersusun atas 2 macam rantai polipeptida yang identik, dimana ada 2 rantai ringan dan 2 rantai berat.

Keempat rantai pada molekul antibodi dihubungkan oleh ikatan disulfida dan bentuk molekulnya menyerupai huruf Y.

Pada setiap lengan dari molekul tersebut memiliki tempat pengikatan antigen.

Umumnya antibodi terdiri atas sekelompok protein yang ada pada fraksi-fraksi globulin serum, fraksi-fraksi globulin serum ini dinamakan immunoglobulin atau disingkat Ig.

B. Pengelompokan Antibodi

Ada lima (5) jenis antobodi yang dimiliki manusia, diantaranya yaitu:

  • IgG (Immunoglobulin Gamma)

IgG (Immunoglobulin Gamma) yaitu kelompok immunoglobulin yang paling banyak dan sering ditemukan dalam sirkulasi.

IgG bisa menembus dinding pembuluh darah dan plasenta, IgG memberikan perlindungan terhadap bakteri, virus, toksin, dan disekresikan dalam kolostrum.

  • IgM (Immunoglubulin-M)

IgM (Immunoglubulin-M) yaitu jenis antibodi pertama yang ditemukan ketika infeksi suatu antigen, antibodi jenis ini memiliki pergiliran yang tinggi dan tidak bertahan lama.

IgM bisa mengikat antigen atau patogen menjadi gumpalan atau mengaglutinasinya, jadi mudah difagositosis makrofag.

Selain itu, IgM juga bisa memicu aktifnya protein komplemen.

  • IgA (Immunoglubulin-A)

Antibodi jenis ini, bisa mencegah masuknya virus melalui jaringan apitel mukosa, sistem pencernaan, pernapasan, dan saluran reproduksi. IgA ditemukan di air liur, air mata, dan kolostrum.

  • IgE (Immunoglubulin-E)

IgE (Immunoglobulin-E) yaitu antibodi yang sedikit lebih besar dari molekul IgG dan cuma sebagian kecil dari total antibodi dalam darah.

IgE memicu peradangan jika cacing parasit menyerang tubuh. IgE juga berperan dalam reaksi alergi.

  • IgD (Immunoglubulin-D)

IgD (Immunoglobulin-D) antibodi jenis ini, tidak bisa mengaktikan sistem komplemen dan tidak bisa melewati plasenta.

IgD diduga berfungsi dalam diferensiasi sel limfosit B menjadi sel B plasma dan sel B memori.


Penyakit pada Sistem Pertahanan Tubuh

Penyakit pada Sistem Pertahanan Tubuh

Ada beberapa gangguan atau penyakit pada sistem pertahanan tubuh, diantaranya yaitu:

1. Alergi

Alergi adalah kondisi dimana respon imun tubuh terhadap benda asing atau antigen terlalu berlebihan.

Pada negara berkembang banyak dijumpai kasus alergi yang dipicu oleh debu, sedangkan di negara maju reaksi alergi lebih sering dipicu oleh serbuk dari benang sari.

Gejala alergi, biasanya ditandai dengan adanya ruam, mudah bersin, mata berair, dan juga keluarnya lendir dari hidung.

2. Anaphylactic Shock

Anapylactic shock adalah kelainan sistem kekebalan tubuh yang disebabkan karena reaksi alergi sangat tinggi.

Akibatnya, seluruh bagian tubuh akan mengalami inflamasi. Penyakit ini, bisa menimbulkan potensi kondisi berbahaya.

3. Definiensi Imun

Defisiensi imun yaitu kondisi saat salah satu atau beberapa komponen sistem kekebalan tubuh terganggu bahkan tidak bisa bekerja.

Defisiensi imun bisa mengakibatkan penurunan imunitas tubuh.

Contoh penyakit yang termasuk defisiensi imun, seperti AIDS dan SCID (Severe Combined Immunodeficiency).

4. Erithroblastosis Fetalis

Erithroblastosis fetalis adalah kelainan pada kehamilan yang muncul akibat perkawinan dengan Rhesus yang berbeda.

Pada kebanyakan kasus yang terjadi karena istri memiliki Rhesus negatif (Rh -), sedangkan janin memiliki Rhesus positif (Rh +). Hal ini bisa mengancam nyawa janin.

5. Autoimun

Autoimun merupakan kelainan akibat kegagalan sistem imun dalam membedakan antigen asing dengan sel-sel tubuh.

Akibatnya, penyakit autoimun menjadikan sistem imun menyerang sel-sel tubuh kamu sendiri. Kelainan ini, bisa membuat fungsi tubuh jadi terganggu.

Pelajari juga : Gangguan Sistem Gerak


Cara Menjaga Sistem Pertahanan Tubuh

Cara Menjaga Sistem Pertahanan Tubuh

Ada beberapa cara untuk menjaga sistem pertahanan tubuh kamu tetap sehat, diantaranya yaitu:

1. Menjaga Pola Hidup Sehat

Menjaga pola hidup sehat akan meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Pola hidup sehat bisa dimulai dengan istirahat yang cukup, membiasakan aktif bergerak, dan mengatur pola hidup secara teratur.

2. Memperhatikan Asupan Nutrisi

Asupan nutrisi yang terkandung dalam makanan sangat berpengaruh terhadap kekebalan tubuh.

Kurangnya mengkonsumsi protein, vitamin, dan mineral akan menurunkan kekebalan tubuh. Makanya, perhatikan asupan nutrisi yang kamu konsumsi.

3. Menghindari Stres

Kondisi stres bisa memicu tubuh mengeluarkan hormon kortisol.

Kalo ada banyak hormon kortisol dalam tubuh, maka akan berpengaruh pada kekebalan tubuh. Makanya, stres memicu kekebalan tubuh menjadi turun.

4. Menghindari Rokok dan Alkohol

Kebiasaan merokok dan minum beralkohol dapat menurunkan kekebalan tubuh.

Hal ini tentu aja harus segera dihentikan. Karena, lama-lama kebiasaan ini akan mengganggu fungsi tubuh lainnya.


Itulah beberapa pembahasan lengkap mengenai Sistem Pertahanan Tubuh Manusia. Gimana? Sangat mudah dipahami kan?

Semoga pembahasan diatas, bisa membantu dan bermanfaat untuk kalian semua sobat cerdika.com 😀

Aditya Rangga

Pelajar yang insyaallah tidak pelit ilmu.

Update : 1 Juli 2021 - Published : 30 Juni 2021