Gangguan Sistem Pernapasan

ranggaku 13 Juli 2023

Sistem pernapasan yaitu salah satu proses yang paling penting didalam kehidupan manusia sehari-hari.

Karena, dengan bernapas tubuh akan memperoleh oksigen yang dibutuhkan untuk menghasilkan energi.

Tidak cuma itu, proses pernapasan juga sangat membantu tubuh untuk membuang zat limbah yang disebut karbondioksida.

Makanya, menjaga kesehatan sistem pernapasan adalah salah satu hal yang penting dan harus dilakukan.

Meski begitu, tidak jarang juga ada beberapa jenis penyakit atau gangguan sistem pernapasan yang bisa mengganggu fungsi tersebut.

Terganggunya sistem pernapasan, secara tidak langsung juga bisa mengganggu kinerja tubuh secara keseluruhan.

Karena, tubuh jadi tidak mendapat pasokan oksigen yang cukup. Ingin tahu apa aja? Yuk simak ulasannya dibawah ini!


1. Rinitis

Rinitis

Hay fever atau rhinitis alergi yaitu peradangan yang terjadi pada rongga hidung akibat reaksi alergi.

Rhinitis alergi bisa dipicu oleh berbagai jenis alergen, contohnya serbuk sari, debu, atau bulu hewan. Rhinitis alergi disebabkan oleh reaksi alergi.

Kondisi ini, menimbulkan beberapa gejala, seperti bersin-bersin, hidung gatal, dan tersumbat.

Selain itu, rhinitis alergi juga bisa menyebabkan munculnya ruam di kulit, mata merah dan berair, dan sakit tenggorokan.

Rhinitis alergi bisa dicegah dengan menghindari paparan faktor-faktor pemicunya, seperti debu atau serbuk sari.

Lalu kalo timbul gejala rhinitis alergi, dokter bisa memberikan obat antihistamin dan dekongestan buat meredakannya.

Tiap penderita alergi bisa mengalami gejala yang berbeda. Gejala biasanya langsung timbul setelah penderita terpapar pemicu alergi (alergen).

Beberapa gejala yang dapat muncul, diantaranya yaitu:

  • Pilek atau hidung tersumbat.
  • Bersin-bersin.
  • Mata terasa gatal atau berair.
  • Mata membengkak dan kelopak mata bawah berwarna gelap.
  • Gatal-gatal pada mulut dan tenggorokan.
  • Muncul ruam pada kulit.
  • Lemas.
  • Batuk-batuk.
  • Sakit kepala.
  • Terkadang menimbulkan gangguan tidur, terutama pada rhinitis alergi yang parah.

Anak-anak yang menderita rhinits alergi, bisa  mengalami gejala atau gangguan pada telinga, seperti telinga sakit, telinga berdenging, infeksi yang disertai keluarnya cairan dari telinga tengah.

Rhinitis alergi memiliki gejala yang mirip dengan flu. Tapi, rhinitis alergi tidak menimbulkan demam seperti sakit flu.


2. Kanker Paru-Paru

Kanker Paru-Paru

Seperti halnya kanker jenis lain, kanker paru-paru juga merupakan penyakit yang berbahaya.

Penyakit ini disebabkan karena sel kanker yang tumbuh di paru-paru dan terus tumbuh tidak terkendali.

Kalo dibiarkan, sel kanker bisa  menyerang bagian tubuh lainnya.

Baca juga : Gangguan Sistem Gerak Tubuh Manusia

Kanker paru-paru juga bisa disebabkan karena kebiasaan kebiasaan buruk seperti merokok, menghirup asap kendaraan, minum minuman beralkohol dan kebiasaan tidak sehat lainnya.

Jadi, masih mau merokok dan minum-minuman beralkohol? Aku sih tidak!


3. SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome)

SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome)

SARS pertama kali ditemukan di Guangdong, China pada tahun 2002 dan baru teridentifikasi di awal tahun 2003.

Penyakit SARS tersebut, kemudian menyebar dengan cepat ke berbagai negara.

Severe Acute Respiratory Syndrome atau SARS yaitu infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh SARS-associated coronavirus (SARS-CoV).

Gejala awalnya sama seperti influenza, tetapi bisa memburuk dengan cepat.

SARS merupakan penyakit menular.

Penularan SARS terjadi saat seseorang tidak sengaja menghirup percikan air liur yang dikeluarkan oleh penderita SARS saat bersin atau batuk.

SARS disebabkan oleh salah satu jenis coronavirus yang dikenal dengan SARS-associated coronavirus (SARS-CoV).

Virus SARS bisa menginfeksi manusia melalui berbagai cara, yaitu:

  • Tidak sengaja menghirup percikan ludah penderita SARS yang batuk atau bersin
  • Menyentuh mulut, mata, atau hidung dengan tangan yang udah terpapar percikan ludah penderita SARS
  • Berbagi penggunaan alat makan dan minum dengan penderita SARS

Seseorang juga bisa tertular SARS saat menyentuh barang yang terkontaminasi oleh tinja penderita SARS.

Biasanya, gajala SARS muncul 2-10 hari setelah seseorang terinfeksi virus SARS-CoV, tapi bisa juga baru muncul 14 hari setelahnya.

Gejala infeksi virus SARS ini bisa bervariasi pada setiap orang, tapi secara umum akan muncul gejala berupa:

  • Demam
  • Batuk
  • Sesak napas
  • Nafsu makan menurun
  • Tubuh mudah lelah
  • Menggigil
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Diare
  • Mual
  • Muntah.

4. Pleuritis

Pleuritis

Pleurisy atau pleuritis yaitu peradangan pada selaput pembungkus organ paru-paru atau pleura.

Kondisi tersebut, menyebabkan penderitanya merasakan nyeri dada yang menusuk, terutama saat bernapas.

Pleura yaitu selaput tipis yang menyelimuti paru-paru dan dinding dada bagian dalam. Pleura terdiri dari dua lapis.

Kedua lapisan ini berperan menjaga paru-paru agar tidak bergesekan dengan dinding rongga dada.

Diantara kedua lapisan paru ini, ada cairan pleura yang berfungsi sebagai pelumas dan membantu mengurangi gesekan saat bernapas.

Selain infeksi, pleuritis atau pleurisy juga dapat disebabkan oleh:

  • Penyakit autoimun, seperti rheumatoid arthritis dan lupus.
  • Gangguan pada organ paru, seperti emboli paru.
  • Kanker paru.
  • Cedera di bagian tulang rusuk.
  • Penyakit keturunan, seperti anemia sel sabit.

Selain nyeri dada, gejala lain yang bisa dialami oleh penderita pleuritis atau pleurisy, yaitu:

  • Demam.
  • Menggigil.
  • Nafsu makan menurun.
  • Sakit kepala.
  • Nyeri sendi dan otot.
  • Nyeri bahu dan punggung.
  • Batuk kering.
  • Sesak napas.

5. Tonisilitis

Tonisilitis

Radang amandel atau tonilisitis yaitu kondisi dimana amandel mengalami peradangan atau inflamasi.

Umumnya, sering dialami oleh anak-anak usia 3 sampai 7 tahun, radang amandel juga bisa terjadi pada orang dewasa.

Amandel atau tonsil merupakan dua kelenjar kecil yang ada di tenggorokan.

Organ tersebut memiliki fungsi untuk mencegah infeksi, khususnya pada anak-anak.

Seiring bertambahnya usia, maka sistem kekebalan tubuh semakin kuat, jadi fungsi amandel mulai tergantikan.

Radang amandel atau tonsilitis bisa disebabkan oleh beberapa penyebab, seperti infeksi virus.

Selain infeksi virus, radang amandel juga bisa disebabkan oleh infeksi bakteri.

Radang amandel ditandai dengan membengkaknya amandel dan muncul rasa sakit di tenggorokan.

Selain itu, radang amandel juga bisa menimbulkan gejala lain, seperti:

  • Suara serak
  • Demam
  • Bau mulut
  • Batuk
  • Sakit kepala.

Berdasarkan lama gejala yang dirasakan, tonsilitis ini bisa dibedakan menjadi tonsilitis akut (kurang dari 2 minggu) dan tonsilitis kronis (lebih dari 2 minggu).


6. Bronkitis

Bronkitis

Bronkitis adalah penyakit yang terjadi karena ada infeksi pada bronkus, yaitu saluran pernapasan utama dari paru-paru.

Akibatnya, terjadi peradangan atau inflamasi yang kemudian memicu gejala gangguan pernapasan.

Bronkitis dibedakan menjadi dua, yaitu akut dan kronis. Bronkitis akut biasanya terjadi lebih singkat dibandingkan kronis yang menahun. 

Ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan resiko seseorang mengalami bronkitis, yaitu:

  • Kebiasaan merokok atau mengisap asap rokok.
  • Tidak mendapat vaksin influenza atau pneumonia.
  • Anak dengan usia dibawah 5 tahun atau orang dewasa yang lebih dari 40 tahun.
  • Mempunyai sistem kekebalan tubuh yang lemah.
  • Riwayat penyakit lain, misalnya penyakit refluks asam lambung (GERD).
  • Terpapar zat-zat berbahaya, seperti debu, amonia, atau klorin saat bekerja atau melakukan aktivitas harian.

Bronkitis akut disebabkan oleh infeksi paru-paru yang pada banyak kasus penyebabnya yaitu virus.

Iritasi dan peradangan tersebut, akan menyebabkan bronkus menghasilkan lendir lebih banyak.

Gejala-gejala seseorang terkena bronkitis, diantaranya yaitu:

  • Batuk disertai lendir berwarna kuning keabu-abuan atau hijau.
  • Sakit tenggorokan.
  • Sesak napas.
  • Hidung beringus atau tersumbat.
  • Sakit atau rasa tidak nyaman pada dada.
  • Kelelahan.
  • Demam ringan.

7. Sianosis

Sianosis

Sianosis yaitu kondisi saat jari tangan, kuku, dan bibir tampak berwarna kebiruan karena kurangnya oksigen dalam darah.

Umumnya, sianosis disebabkan oleh suatu kondisi atau penyakit yang memerlukan penanganan segera dari dokter.

Salah satu penyebab tubuh mengalami sianosis yaitu paparan suhu dingin yang membuat suhu tubuh menurun atau hipotermia.

Udara dingin bisa membuat pembuluh darah dalam tubuh menyempit, jadi kadar oksigen yang dialirkan ke seluruh tubuh menjadi berkurang (hipoksia).

Selain paparan suhu yang terlalu dingin, sianosis juga bisa disebabkan oleh masalah kesehatan atau penyakit tertentu.

Sianosis ini bisa terjadi pada siapa aja, termasuk pada bayi yang baru lahir.

Ada beberapa kondisi atau penyakit yang bisa menyebabkan seseorang mengalami sianosis, yaitu:

  • Gangguan pada paru-paru.
  • Gangguan pada jalan napas.
  • Gangguan pada jantung.
  • Penyakit arteri perifer.
  • Deep vein thrombosis.
  • Kekurangan hemoglobin.
  • Methemoglobinemia.

8. Asidosis

Asidosis

Asidosis merupakan kondisi yang terjadi saat kadar asam didalam tubuh sangat tinggi.

Kondisi tersebut ditandai dengan beberapa gejala, misalnya napas pendek, linglung, atau sakit kepala.

Normalnya, pH darah didalam darah adalah sekitar 7,4. Asidosis terjadi saat pH darah kurang dari 7,35 (asam).

Hal ini berkebalikan dengan kondisi alkalosis yang terjadi saat pH darah lebih dari 7,45 (basa).

Perubahan pH tersebut, nantinya akan sangat memengaruhi fungsi dan kerja berbagai organ tubuh.

Asidosis terjadi saat keseimbangan asam-basa di dalam tubuh terganggu, sehingga kadar asam menjadi sangat tinggi.

Ada 3 mekanisme yang menyebabkan munculnya asidosis, yaitu:

  • Produksi asam yang berlebihan.
  • Pengeluaran asam yang terganggu.
  • Proses keseimbangan asam-basa didalam tubuh yang tidak normal.

Hal-hal tersebut, yang akan menyebabkan terjadinya penumpukan asam didalam tubuh.

Ketiga mekanisme tersebut bisa disebabkan oleh adanya:

  • Gangguan metabolisme asam di tubuh (asidodis metabolik).
  • Gangguan pada proses pertukaran oksigen dan karbon dioksida (asidosis respiratorik).

9. Hipoksia

Hipoksia

Hipoksia merupakan kondisi rendahnya kadar oksigen di sel dan jaringan.

Akibatnya, sel dan jaringan yang ada di seluruh bagian tubuh tidak bisa berfungsi dengan normal.

Hipoksia yaitu kondisi yang perlu diwaspadai karena kalo dibiarkan, kondisi ini bisa menyebabkan kematian jaringan.

Nomalnya, oksigen yang diperoleh melalui kegiatan bernapas akan diangkut oleh darah dari paru-paru menuju ke jantung.

Lalu, jantung akan memompa darah yang kaya oksigen ke seluruh sel tubuh melalui pembuluh darah.

Hipoksia terjadi saat oksigen tidak sampai ke sel dan juga ke jaringan.

Akibatnya, kadar oksigen di jaringan akan turun yang diikuti dengan kemunculan keluhan dan gejala.

Ada beberapa penyakit dan kondisi medis yang bisa menyebabkan hipoksia, yaitu:

  • Penyakit paru-paru, seperti bronkitis, PPOK, edema paru, emfisema, hipertensi pulmonal, pneumonia, pneumothorax, atau kanker paru.
  • Penyakit jantung, seperti, bradikardia, ventrikel fibrilasi, gagal jantung kongestif, atau penyakit jantung koroner.
  • Kelainan pada darah, seperti anemia atau methemoglobinemia.
  • Infeksi yang menyebabkan sepsis.
  • Keracunan, seperti keracunan sianida atau keracunan CO (karbonmonoksida).
  • Cedera yang menyebabkan perdarahan dalam jumlah yang berlebihan.
  • Penggunaan obat, seperti fentanyl atau obat bius.
  • Penyakit akibat ketinggian atau altitude sickness.
  • Kekurangan oksigen akibat terjebak di kebakaran, tempat dengan suhu dingin, atau tenggelam.

Dibawah ini, ada beberapa gejala hipoksia yang umum terjadi:

  • Napas menjadi cepat.
  • Sesak napas.
  • Detak jantung menjadi cepat atau sebaliknya menjadi lamban.
  • Kulit, kuku, dan bibir berwarna kebiruan (sianosis) atau justru berwarna merah seperti ceri.
  • Lemas.
  • Linglung atau bingung.
  • Hilang kesadaran.
  • Berkeringat.
  • Batuk.
  • Sulit bicara.

Pada kasus tertentu, hipoksia bisa muncul tanpa menimbulkan tanda atau gejala apapun (Happy Hypoxia).


10. Tuberkulosis (TBC)

Tuberkulosis (TBC)

TBC merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.

Bakteri tersebut, akan menyerang paru-paru dan menimbulkan bintil-bintil pada dinding alveolus.

Karena ada bintil-bintil tersebut, proses difusi oksigen terganggu. Penderita TBC juga sering mengalami batuk darah.

Kuman TBC tidak cuma menyerang paru-paru, tapi juga bisa menyerang tulang, usus, atau kelenjar.

Penyakit ini, ditularkan dari percikan ludah yang keluar penderita TBC, saat berbicara, batuk, atau bersin.

Selain menimbulkan gejala berupa batuk yang berlangsung lama, penderita TBC juga akan merasakan beberapa gejala lain, seperti:

  • Demam.
  • Lemas.
  • Berat badan turun.
  • Tidak nafsu makan.
  • Nyeri dada.
  • Berkeringat di malam hari.

Penyakit ini, lebih rentan terkena pada seseorang yang kekebalan tubuhnya rendah, misalnya penderita HIV.


11. Asfiksi

Asfiksi

Asfiksi merupakan gangguan pengangkutan oksigen ke jaringan tubuh.

Asfiksi disebabkan karena hemoglobin darah mengikat komponen selain oksigen seperti karbon monoksida.

Karena daya ikat HB lebih tinggi terhadap CO, maka CO akan lebih berpotensi buat masuk kedalam tubuh.

CO sendiri, banyak dihasilkan oleh asap kendaraan bermotor.

Selain itu, ada beberapa penyebab asfiksia yang cukup sering terjadi:

  • Tersedak.
  • Paparan asap atau zat kimia.
  • Tercekik.
  • Kondisi tertentu pada bayi baru lahir.
  • Kelainan seksual.

Apapun penyebabnya, asfiksia adalah kondisi yang perlu diwaspadai dan perlu segera ditangani oleh dokter.


12. Dipteri

Dipteri

Difteri yaitu suatu infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae, yang menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, serta bisa memengaruhi kulit.

Penyakit tersebut, sangat menular dan termasuk infeksi serius yang berpotensi mengancam jiwa.

Penyebaran difteri sendiri, bisa melalui partikel di udara, benda pribadi, peralatan rumah tangga yang terkontaminasi, dan menyentuh luka yang terinfeksi kuman difteri.

Ada berbagai faktor resiko difteri, diantaranya yaitu:

  • Anak-anak dibawah usia 5 tahun dan orang tua diatas usia 60 tahun.
  • Belum mendapatkan vaksinasi difteri.
  • Berkunjung ke daerah dengan cakupan imunisasi difteri yang rendah.
  • Sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti penderita HIV/AIDS.
  • Gaya hidup yang tidak sehat.
  • Lingkungan dengan kebersihan dan sanitasi yang buruk.

Umumnya, gejala penyakit difteri akan muncul 2-5 hari sejak seseorang terinfeksi kuman penyebab difteri tersebut.

Selain itu, ada beberapa gejala yang muncul, yaitu seperti:

  • Terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi amandel dan tenggorokan.
  • Demam dan menggigil.
  • Nyeri tenggorokan dan suara serak.
  • Sulit bernapas atau napas yang cepat.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening pada leher.
  • Lemas dan lelah.
  • Pilek yang awalnya cair, tapi bisa sampai bercampur darah.
  • Batuk yang keras.
  • Rasa tidak nyaman.
  • Gangguan penglihatan.
  • Bicara melantur.
  • Tanda-tanda syok, seperti kulit pucat/dingin, berkeringat, dan jantung berdebar cepat.

13. Asma

Asma

Asma merupakan salah satu penyakit yang terjadi karena penyempitan saluran pernapasan.

Penyebab penyempitan saluran pernapasan biasanya disebabkan oleh alergi terhadap debu, pasir, bulu, serangga kecil atau rambut.

Penyakit ini juga bisa muncul kembali kalo suhu lingkungan terlalu dingin atau saat penderitanya mengalami masalah psikologis.

Kalo tidak segera diberi penanganan, penderita dapat mengalami kematian akibat sesak napas.

Selain itu, ada beberapa hal lain yang bisa memicu asma, diantaranya yaitu:

  • Rokok.
  • Bulu binatang.
  • Udara dingin.
  • Infeksi virus.
  • Paparan zat kimia.
  • Aktivitas fisik.
  • Infeksi paru-paru dan saluran napas bagian atas.
  • Pekerjaan tertentu seperti tukang las, kayu, atau pekerja pabrik tekstil.
  • Emosi yang berlebihan.
  • Alergi makanan, seperti kacang-kacangan.

Seseorang yang mengidap kondisi ini bisa mengalami beragam gejala, seperti:

  • Sesak dada.
  • Batuk, terutama pada malam atau dini hari.
  • Sesak napas.
  • Mengi, yang menyebabkan suara siulan saat mengeluarkan napas.

Pola gejala pada pengidap asma biasanya memiliki beberapa ciri seperti:

  • Datang dan pergi seiring waktu atau dalam hari yang sama.
  • Mulai atau memburuk dengan infeksi virus, seperti pilek.
  • Dipicu oleh olahraga, alergi, udara dingin, atau hiperventilasi karena tertawa atau menangis.
  • Lebih buruk di malam hari atau di pagi hari.

14. Empisema

Empisema

Emfisema merupakan penyakit yang disebabkan karena alveolus kehilangan elastisitasnya.

Kantong udara pada paru-parumu juga akan mengalami kehancuran secara perlahan, jadi membuat napas menjadi pendek-pendek.

Emfisema disebabkan karena kebiasaan merokok, polusi udara, dan polusi asap rokok.

Ada beberapa kondisi yang bisa meningkatkan risiko seseorang menderita emfisema, seperti:

  • Memiliki kebiasaan merokok atau sering terpapar asap rokok (perokok pasif).
  • Menetap atau bekerja di lingkungan yang mudah terpapar polusi udara, seperti lingkungan pabrik atau industri.
  • Berusia 40 tahun ke atas.
  • Memiliki riwayat defisiensi alfa-1 antitripsin atau penyakit paru obstruktif (PPOK) dalam keluarga.

Pada tahap awal, biasanya emfisema tidak menimbulkan gejala khusus.

Tapi, emfisema berkembang secara perlahan dan bisa menimbulkan gejala yang bervariasi, saat kerusakan jadi semakin parah.

Ada beberapa gejala yang umum dialami penderita emfisema, seperti:

  • Sesak napas, terutama saat beraktivitas.
  • Batuk yang terus-menerus dan mengeluarkan dahak.
  • Mengi.
  • Sesak atau nyeri di dada.

Kalo emfisema udah semakin parah, gejala yang dapat ditimbulkan, yaitu:

  • Penurunan nafsu makan yang mengakibatkan berat badan berkurang.
  • Infeksi paru-paru yang berulang.
  • Mudah lelah.
  • Sakit kepala di pagi hari.
  • Jantung berdebar.
  • Bibir dan kuku menjadi biru.
  • Pembengkakan pada kaki.
  • Kesulitan dalam berhubungan seks.
  • Gangguan tidur.
  • Depresi.

15. Pneumonia

Pneumonia

Pneumonia atau paru-paru basah merupakan peradangan paru-paru yang disebabkan oleh infeksi.

Penyakit pneumonia bisa menimbulkan gejala yang ringan sampai yang berat.

Beberapa gejala yang umumnya dialami penderita pneumonia yaitu seperti batuk berdahak, demam, dan sesak napas.

Pada kondisi ini, infeksi menyebabkan peradangan pada kantong-kantong udara (alveoli) di salah satu atau kedua paru-paru.

Akibatnya, alveoli bisa dipenuhi oleh cairan atau nanah jadi menyebabkan penderitanya sulit bernapas.

Pneumonia bisa disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, atau jamur.

SARS-CoV- 2 yang menyebabkan COVID-19 yaitu salah satu jenis virus yang bisa menyebabkan pneumonia.

Pneumonia akibat COVID-19 bisa menyebabkan komplikasi berbahaya, salah satunya yaitu Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS).

Pneumonia terkadang juga bisa muncul beserta penyakit paru-paru lain, misalnya TB paru.


16. Faringitis

Faringitis

Faringitis merupakan peradangan pada tenggorokan atau faring.

Kondisi ini disebut juga radang tenggorokan, yang ditandai dengan tenggorokan terasa nyeri, gatal, dan sulit menelan.

Umumnya, faringitis disebabkan oleh infeksi virus. Beberapa jenis virus yang bisa menyebabkan faringitis adalah influenza, rhinovirus, dan Epstein-Barr.

Walaupun lebih sering disebabkan oleh infeksi virus, infeksi bakteri golongan Streptococcus juga bisa menyebabkan faringitis.

Virus dan bakteri penyebab faringitis sangat mudah menyebar lewat udara, misalnya lewat butiran air ludah dari batuk penderita yang terhirup.

Faringitis biasanya baru menimbulkan gejala sekitar 2-5 hari setelah penderita terkena infeksi.

Ada beberapa gejala yang bisa timbul saat seseorang menderita faringitis, yaitu:

  • Nyeri atau sakit tenggorokan.
  • Gatal pada tenggorokan.
  • Sulit menelan.
  • Demam.
  • Sakit kepala.
  • Pegal linu.
  • Mual muntah.
  • Pembengkakan di leher depan.

Selain itu, gejala lain yang bisa timbul merupakan suara parau dan batuk.

Kalo infeksi meluas ke amandel atau tonsil bisa terjadi peradangan dan pembengkakan pada amandel.


Itulah beberapa pembahasan lengkap tentang Contoh Gangguan Sistem Pernapasan. Gimana? Mudah dipahami kan?

Semoga pembahasan diatas membantu dan bermanfaat buat kalian semua 😀

Aditya Rangga

Pelajar yang insyaallah tidak pelit ilmu.

Artikel Terkait

Tumbuhan Monokotil


Warning: Undefined variable $url in /www/wwwroot/cerdika.com/wp-content/themes/gpblogpro/single.php on line 74
Mualana Fahri
30 Juli 2023

Mutasi


Warning: Undefined variable $url in /www/wwwroot/cerdika.com/wp-content/themes/gpblogpro/single.php on line 74
ranggaku
16 Juli 2023