Hukum Mendel

Orang pertama yang menaruh perhatian dan membuat perhitungan dari hasil berbagai macam persilangan menggunakan tanaman kapri atau ercis (Pisum sativum) yaitu Gregor Johann Mendel.

Jadi, munculah yang namanya hukum Mendel. Bagaimanakah isi dari hukum Mendel tersebut?

Ingin tahu? Makanya, yuk kita simak seksama pembahasannya dibawah ini!


 

 

Pengertian Hukum Mendel

Pengertian Hukum Mendel

Hukum mendel yaitu sebuah hukum dalam bidang ilmu biologi yang memberikan bukti tentang warisan gen dari orang tua pada sifat-sifat anak.

Sifat tersebut merupakan sebuah sifat genetik, seperti bentuk tubuh, warna bulu, ataupun jenis kulitnya.

Hukum tentang pewarisan sifat pada organisme memiliki 2 kategori hukum, yaitu hukum pemisahan dan berpasangan.


 

 

Macam-Macam Hukum Mendel

Macam-Macam Hukum Mendel

Mendel melakukan penelitian menggunakan tanaman “Ercis” buat menjelaskan pola-pola pewarisan sifat pada keturunan.

Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan terhadap tanaman ercis (Pisum Sativum).

Mendel bisa mencetuskan dua hukum tentang pewarisan sifat, yaitu Hukum Mendel I dan Hukum Mendel II.

1. Hukum Mendel I

Hukum mendel I atau pemisah, disebut juga dengan Hukum Segregation.

Bunyi Hukum Mendel I:

“The law of segregation of allelic genes”

Artinya:

Hukum pemisah gen sealela, pemisahan alel-alel terjadi saat terbentuknya gamet (Diploid-Haploid).

Apa itu Gamet? Gamet merupakan sel reproduksi atau kelamin yang berisi kromosom haploid.

Contoh Persilangan Monohibrid:

Mawah merah (sifat : dominan) disilangkan (X) dengan mawar putih (sifat : resesif).

  • P1 (Perilangan 1) = Mawar merah X mawar putih
  • MM X mm
  • Gamet = M m
  • F1 (Fenotip 1) = Mm (merah 100%)
  • P2 = Mm X Mm
  • Gamet = M M
  • m m

F2 =

 Mm
MMMMm
mMmmm

Keterangan X Monohibrid:

  • MM merupakan merah
  • Mm merupakan merah
  • mm merupakan putih
  • Rasio Fenotipe F2 = 3 : 1, yaitu merah : putih
  • Rasio Genotipe F2 = 1 : 2 atau MM : Mm : mm

Fenotipe yaitu karakterisik (karakteristik secara struktural atau biokimiawi), dan pada contoh tersebut rasio atau perbandingan fenotipenya adalah 3 : 1 (merah : putih).

Sedangkan,

Genotip disebut juga dengan tipe gen. Terdiri dari 2 Tipe gen yaitu homozigot seperti : MM dan mm (pasangan huruf yang sama), dan tipe heterozigot seperti : Mm (satu pasang yang berbeda huruf).

 

2. Hukum Mendel II

Hukum Mendel II disebut juga dengan “Asortasi atau Berpasangan”. Pernyataan tentang hukum mendel II ditunjukkan pada bunti hukum dibawah ini:

Bunyi Hukum Mendel II:

“The law of independent assortment of genes”.

Artinya:

Mengatur tentang pengelompokkan atau berpasangan gen secara bebas dan terjadinya perkawinan dihibrid sampai membentuk gamet.

Contoh Persilangan Dihibrid:

Ercis berbiji bulat warna kuning (sifat : dominan) disilangkan (X) dengan ercis berbiiji kisut warna hijau (sifat : resesif).

Jadi,

  • P1 = Bulat kuning X Kisut hijau
  • BBKK X bbkk
  • Gamet = BK bk
  • F1 = BbKk (Bulat Kuning 100%)
  • P2 = BbKk X BbKk
  • Gamet = BK BK

Bk Bk

bK bK

bk bk

  • F2 =
 BKBkbKbk
BKBBKKBBKkBbKKBbKk
BkBBKkBBkkBbKkBbkk
bKBbKKBbKkbbKKbbKk
bkBbKkBbkkbbKkbbkk

Tabel Persilangan Dihibrid

Keterangan X Dihibrid:

  • Bulat Kuning (pasangan yang harus memiliki huruf “B” dan “K“) = 9.
  • Bulat Hijau (pasangan yang memiliki huruf “B” dan “k“) = 3.
  • Kisut Kuning (pasangan yang memiliki huruf “b” dan “K“) = 3.
  • Kisut Hijau (pasangan yang memiliki huruf “b” dan “k”) = 1.

Pernyataan dari keterangan tersebut berdasarkan dari “tabel persilangan dihibrid”, dimana hasil Bulat Kuning ditunjukkan pada pasangan huruf yang bold.

Sedangkan, Bulat Hijau yaitu pasangan huruf miring, dan pasangan huruf yang bergaris bawah adalah Kisut Kuning, satu pasangan lagi yaitu Kisut Hijau dengan hasil 1 fenotipe.

Jadi, rasio fenotipe F2 = 9 : 3 : 3 : 1.

Wah, setelah mendapatkan dua contoh sekaligus dari masing-masing hukum tersebut di atas, tentu kamu semakin paham dengan pernyataan atau definisi dari hukum-hukum tersebut.


 

 

Persilangan Testcross, Backross, dan Resiprok

Persilangan Testcross, Backross, dan Resiprok

1. Persilangan Testcross

Persilangan testcross yaitu persilangan antara suatu individu yang tidak diketahui genotipenya dengan induk yang genotipenya homozigot resesif.

Persilangan testcross ini, bisa juga dilakukan dengan individu yang bukan induknya, dengan syarat genotipenya diketahui homozigot resesif.

Tujuannya untuk mengetahui heterogenitas suatu persilangan.

Contohnya:

Tanaman berbatang tinggi (TT), disilangkan dengan tanaman berbatang pendek (tt).

  • P1 : tanaman batang tinggi x tanaman batang pendek
  • TT x tt
  • Gamet  : Tt
  • F1 : Tt (tanaman batang tinggi 100%)

Testcross

  • Tanaman batang tinggi x tanaman batang pendek
  • Tt x tt
 T
TTt
tTt

Jadi, 50% tanaman berbatang tinggi dan 50% tanaman berbatang pendek.

 

2. Persilangan Backross

Persilangan backross yaitu persilangan antara anakan Fyang heterozigot dengan induknya yang homozigot dominan.

Tujuannya adalah buat memudahkan menganalisis sifat genetis suatu karakter yang sedang diamati.

Contohnya:

Tanaman berbiji bulat (BB), disilangkan dengan tanaman berbiji keriput (bb).

  • P : BB x bb
  • Gamet : Bb
  • F1 : Bb (tanaman berbiji bulat 100%)

Backcross

Tanaman berbiji bulat x tanaman berbiji bulat

  • Bb x BB
 B
BBB
bBb

Jadi, 100% tanaman berbiji bulat.

 

3. Persilangan Resiprok

Persilangan resiprok atau persilangan tukar kelamin yaitu persilangan ulang dengan jenis kelamin yang dipertukarkan.

Contohnya:

  • H = Gen yang menentukan polong warna hijau.
  • H = Gen yang menentukan polong warna kuning.

Awalnya, serbuk sari dari bunga pada tanaman berbuah polong hijau diserbukkan pada putik bunga pada tanaman berbuah polong kuning.

Pada persilangan berikutnya, cara diatas dibalik.

Dari kedua macam persilangan tersebut, ternyata didapatkan keturunan F1 ataupun F2 yang sama.

  • P = hh x HH
  • kuning : hijau
  • F1 = Hh
  • Hijau
  • Serbuk sari : H dan h
  • Sel telur : H dan h

F2:

  • HH = Polong hijau
  • Hh = Polong hijau
  • Hh = Polong hijau
  • hh = Polong kuning

Persilangan resiproknya:

  • P = HH x hh
  • Hijau : Kuning
  • F1 = Hh
  • Hijau
  • Serbuk sari : H dan h
  • Sel telur : H dan h

F2:

  • HH = Polong hijau
  • Hh = Polong hijau
  • Hh = polong hijau
  • hh = polong kuning

Jadi, persilangan resiprok menghasilkan keturunan yang sama, yaitu baik F1 dan F2.


 

 

Penyimpangan Semu Hukum Mendel

Penyimpangan Semu Hukum Mendel

1. Polimeri

Polimeri merupakan hubungan gen yang saling menambah (bersifat kumulatif).

Pada polimeri ini, ada banyak gen bukan alel tapi mempengaruhi karakter atau sifat yang sama.

Polimeri memiliki ciri khas yaitu makin banyak gen dominan, maka sifat karakternya akan semakin kuat.

Contohnya:

Gandum berkulit merah, disilangkan dengan gandum berkulit putih.

P1 : Gandum berkulit merah x gandum berkulit putih

M1M1M2M2 x m1m1m2m2

Gamet : M1M2                                              m1m2

F1 : M1m1M2m2 = merah muda

P2 : M1m1M2m2 x M1m1M2m2

Gamet : M1M2                                     M1M2

M1m2                                    M1m2

m1M2                                     m1M2

m1m2                                     m1m2

F2:

 M1M2M1m2m1M2m1m2
M1M2M1M1M2M2

 

merah tua sekali

M1M1M2m2

 

merah tua

M1m1M2M2

 

merah tua

M1m1M2m2

 

merah

M1m2M1M1M2m2

 

merah tua

M1M1m2m2

 

merah

M1m1M2m2

 

merah

M1m1m2m2

 

merah muda

m1M2M1m1M2M2

 

merah tua

M1m1M2m2

 

merah

m1m1M2M2

 

merah

m1m1M2m2

 

merah muda

m1m2M1m1M2m2

 

merah

M1m1m2m2

 

merah muda

m1m1M2m2

 

merah muda

m1m1m2m2

 

putih

Jadi, rasio fenotipe F2 yaitu merah : putih = 15 : 1

Dari contoh tersebut, diketahui kalo gen M1 dan M2 bukan alel, tapi sama-sama berpengaruh terhadap warna merah gandum.

Apabila gen dominannya banyak, maka warna gandum akan semakin merah.

 

2. Kriptomeri

Pada persilangan kriptomeri, kalo gen berdiri sendiri maka keberadaan sifat gen dominannya tersembunyi.

Tapi, kalo terjadi interaksi antara gen dominan dengan gen dominan lainnya, maka akan muncul sifat gen dominan yang sebelumnya tersembunyi.

Kriptomeri memiliki ciri yaitu ada karakter baru muncul kalo ada 2 dominan bukan alel berada bersama.

Contohnya:

Persilangan Linaria Maroccana

P1 : merah x putih

AAbb aaBB

Gamet : Ab aB

F1 : AaBb = ungu (warna ungu muncul karena keberadaan A dan B sedang bersama)

P2 : AaBb x AaBb

Gamet : AB AB

Ab Ab

aB aB

ab ab

F2:

 ABAbaBab
ABAABB

 

ungu

AABb

 

ungu

AaBB

 

ungu

AaBb

 

ungu

AbAABb

 

ungu

AAbb

 

merah

AaBb

 

ungu

Aabb

 

merah

aBAaBB

 

ungu

AaBb

 

ungu

aaBB

 

putih

aaBb

 

putih

abAaBb

 

ungu

Aabb

 

merah

aaBb

 

putih

Aabb

 

putih

Rasio fenotipe F2 nya adalah ungu : merah : putih = (9 : 3 : 4).

 

3. Epistasis-Hipostasis

Yaitu suatu peristiwa dimana suatu gen dominan menutupi pengaruh gen dominan lain yang bukan alelnya.

Gen yang menutupinya disebut sebagai “Epistatis” dan yang ditutupi disebut sebagai “Hipostatis”.

Contohnya:

Persilangan antara jagung berkulit hitam dengan jagung berkulit kuning.

P1 : hitam x kuning

HHkk  hhKK

Gamet : Hk hK

F1 : HhKk = hitam (H dan K ada bersama dan keduanya dominan. Tapi, karakter yang muncul yaitu hitam. Artinya, hitam epistatis/menutupi terhadap kuning hipostatis/ditutupi terhadap hitam.

P2 : HhKk x HhKk

Gamet : HK HK

Hk Hk

hK hK

hk hk

F2:

 HKHkhKhk
HKHHKK

 

hitam

HHKk

 

hitam

HhKK

 

hitam

HhKk

 

hitam

HkHHKk

 

hitam

HHkk

 

hitam

HhKk

 

hitam

Hhkk

 

hitam

hKHhKK

 

hitam

HhKk

 

hitam

hhKK

 

kuning

hhKk

 

kuning

hkHhKk

 

hitam

Hhkk

 

hitam

hhKk

 

kuning

hhkk

 

putih

Jadi, rasio fenotipe F2 hitam : kuning : putih = (12 : 3 : 1).

 

4. Komplementer

Komplementer yaitu hubungan dua gen dominan yang saling melengkapi untuk memunculkan suatu karakter.

Komplementer dinamakan juga epistatis gen resesif rangkap, karena kalo salah satu gen bersifat homozigot resesif, pemunculan suatu karakter oleh gen lain menjadi tidak sempurna atau terhalang.

Contohnya:

Perkawinan antara dua orang yang sama-sama bisu tuli.

P1 : bisa tuli x bisu tuli

DDee ddEE

Gamet : De   dE

F1 : DdEe = normal (D dan E ada bersama dan saling bekerja sama, memunculkan karakter normal. Kalo cuma memiliki salah satu gen dominan, yaitu gen D atau E aja, maka akan muncul karakter bisu tuli).

P2 : DdEe x DdEe

Gamet : DE  DE

De   De

dE   dE

de   de

F2:

 DEDedEde
DEDDEE

 

normal

DDEe

 

normal

DdEE

 

normal

DdEe

 

normal

DeDDEe

 

normal

DDee

 

bisu tuli

DdEe

 

normal

Ddee

 

bisu tuli

dEDdEE

 

normal

DdEe

 

normal

ddEE

 

bisu tuli

ddEe

 

bisu tuli

deDdEe

 

normal

Ddee

 

bisu tuli

ddEe

 

bisu tuli

ddee

 

bisu tuli

Jadi, rasio fenotipe F2 normal yaitu bisu tuli = 9 : 7.

 

5. Interaksi Alel

Interaksi alel yaitu peristiwa dimana muncul suatu karakter akibat adanya interaksi antar gen dominan atau antar gen resesif.

Contohnya:

Mengenai jengger pada ayam.

P1 : Rose x Pea

RRpp     rrPP

Gamet : Rp     rP

F1 : RrPp = Walnut

P2 : RrPp x RrPp

Gamet : RP     RP

Rp    Rp

rP     rP

rp     rp

F2:

 RPRprPrp
RPRRPP

 

walnut

RRPp

 

walnut

RrPP

 

walnut

RrPp

 

walnut

RpRRPp

 

walnut

RRpp

 

rose

RrPp

 

walnut

Rrpp

 

rose

rPRrPP

 

walnut

RrPp

 

walnut

rrPP

 

pea

rrPp

 

pea

rpRrPp

 

walnut

Rrpp

 

rose

rrPp

 

pea

rrpp

 

single

Jadi, rasio fenotipe F2 walnut : rose : pea : single = 9 : 3 : 3 : 1

Pada contoh tersebut, ada 2 karakter baru muncul diantaranya yaitu:

  • Walnut : Yaitu muncul karena interaksi 2 gen dominan.
  • Single : Yaitu muncul karena interaksi 2 gen resesif.

Itulah beberapa pembahasan lengkap tentang Hukum Mendel. Gimana? Mudah dipahami kan?

Oiya, kalo ada kekurangan atau pertanyaan lainnya, langsung tulis aja dikolom komentar dibawah ini yak!

Semoga pembahasan diatas membantu dan bermanfaat buat kalian semua 😀

Aditya Rangga

Pelajar yang insyaallah tidak pelit ilmu.

Update : 1 Juli 2021 - Published : 16 Juni 2021