7 Bukti Kerajaan Tarumanegara

Di masa lalu, ada banyak sekali kerajaan yang berdiri di Indonesia dan tersebar di berbagai wilayah, salah satunya adalah kerajaan Tarumanegara.

KerajaanTarumanegara yang merupakan kerajaan Hindu beraliran Dewa Wisnu ini ada di Jawa Barat sempat berkuasa mulai abad ke-4 sampai ke-7.

Kamu tahu gak? Kalo ternyata Kerajaan Tarumanegara merupakan kerajaan tertua di Indonesia, lho! Kerajaan Tarumanegara didirikan tahun 358 oleh Rajadiraguru Jayasingawarman.

Nah, kerajaan Tarumanegara ini mempunyai banyak sekali prasasti – prasasti atau bukti adanya kerajaan Tarumanegara. Ingin tahu apa aja? Yuk langsung simak aja pembahasannya dibawah ini!


1. Prasasti Ciaruteun

Prasasti Ciaruteun

Pada tahun 1863 seorang pimpinan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen mengetahui keberadaannya prasasti ini, dan ditemukan di aliran Sungai Ciaruteun, Bogor.

Lalu di tahun 1893, letak prasasti tersebut berubah karena diterjang banjir. Hal itu, membuat prasasti terguling jadi tulisan yang awalnya diatas menjadi terbalik posisinya ke bawah.

Kemudian, pada tahun 1903 letak prasasti Ciaruteun ini diperbaiki seperti keberadaannya semula.

Pada Juli 1981, batu prasasti ini dipindahkan ke atas, tepatnya di Kampung Muara, Desa Ciaruteun Hilir, Kecamatan Cibungbulang, Bogor.

Usaha pemindahan ini dilakukan oleh Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Prasasti Ciaruteun disebutkan dan dibahas oleh:

  • N.W. Hoepermans (1864)
  • J.F.G. Brumund (1868)
  • A.B. Cohen Stuart (1875)
  • P.J. Veth (1878, 1896)
  • H. Kern (1882, 1917)
  • R.D.M. Verbeek (1891)
  • C.M. Pleyte (1905/1906)
  • N.J. Krom (1915, 1931)
  • J. Ph. Vogel (1925)
  • R. M. Ng. Poerbatjaraka (1952).

Berdasarkan isi prasasti, bisa diperoleh informasi mengenai adanya sebuah kerajaan bernama Tarumanagara atau Tarumanegara dengan rajanya Purnnawarman beserta dewa yang dipuja, yaitu Dewa Wisnu.

Prasasti Ciaruteun yang juga dikenal dengan nama Prasasti Ciampea ini ada juga gambar laba – laba dan telapak kaki Raja Purnawarma.

Bentuk tulisan pada prasasti menunjukkan kalo Prasasti Ciaruteun tersebut dibuat pada abad V.

Prasasti ini sampai sekarang belum terbaca secara tuntas, karena aksara yang dipakai yaitu aksara “kursif” (cursive writing) yang gak memperlihatkan kesamaan bentuk dengan aksara Pallawa standar yang biasa dipakai pada Prasasti Ciaruteun-A.


2. Prasasti Jambu (Pasir Koleangkak)

Prasasti Jambu (Pasir Koleangkak)

Awalnya, prasasti ini ditemukan di bukit Koleangkak, Perkebunan Jambu. Letaknya sekitar 30 km sebelah barat dari kota Bogor.

Lalu pada tahun 1854, seseorang bernama Jonathan Rigg menemukan prasasti Jambu yang berada diatas Gunung Batutulis (Pasir Koleangkak).

Lokasi ditemukannya prasasti ini masuk ke dalam wilayah perkebunan karet “Sadeng Djamboe” yang ada di Desa Parakanmuncang, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor.

Prasasti Jambu ini adalah peninggalan Kerajaan Tarumanegara atau Tarumanagara ditulis dalam 2 baris tulisan Pallawa dan bahasa Sanskerta.

Kedua baris prasasti ini mempunyai ukuran panjang sekitar 1,5 cm merupakan sebuah sloka dengan metrum sragdhara dan tiap baris berisi dua pada.

Huruf – hurufnya masih cukup jelas dan berukuran sekitar 2 sampai 7 cm. Pada batu prasasti ini ada juga pahatan sepasang telapak kaki.

Berdasarkan bentuk huruf Pallawa yang digpakai, prasasti ini diduga berasal dari abad ke-5. Prasasti ini berisi kebesaran Raja Purnawarman dan gambar telapak kakinya.


3. Prasasti Kebon Kopi

Prasasti Kebon Kopi

Prasasti ini pertama kali ditemukkan di Kampung Muara pada awal abad XIX, saat diadakan penebangan hutan buat pembukaan perkebunan kopi.

Pertama kali pemberitaan tentang prasasti ini dikemukakan oleh N.W. Hoepermans dalam laporannya yang ditulis pada tahun 1864.

Lalu, disusul oleh beberapa uraian lain dari J.F.G Brumund (1868), A.B. Cohen Stuart (1875), P.J Veth (1878, 1896), H. Kern (1884, 1885, 1910), R.D.M. Verbeek (1891), J.Ph. Vogel (1925), dan lainnya.

Prasasti Kebon Kopi dituliskan pada sebuah batu andesit di salah satu bidang permukaannya yang rata memakai aksara Pallawa, berbahasa Sansekerta, berbentuk sloka dengan metrum anustubh, dan diapit oleh sepasang gambar telapak kaki gajah.

Huruf yang dipakai pada prasasti ini lebih kecil, kalo dibandingkan dengan yang ada pada Prasasti Ciaruteun. Pemahatannya juga gak terlalu dalam.

Prasasti Kebon Kopi adalah peninggalan Kerajaan Tarumanegara atau Tarumanagara ini cukup istimewa, karena ada sepasang telapak kaki gajah.

Tapak kaki ini digambarkan sebagai tapak kaki Raja Purnawarman.

Dalam agama Hindu, gajah digambarkan sebagai hewan sakral dan dekat dengan Dewa Wisnu. Konon diibaratkan sebagai Maharaja Purnawarman.


4. Prasasti Tugu

prasasti tugu

Prasasti tugu ini merupakan salah satu prasasti terpanjang yang dikeluarkan oleh Purnnawarman.

Berisi keterangan tentang penggalian Sungai Candrabaga oleh Rajadirajaguru dan penggalian Sungai Gomati sepanjang 6112 tombak atau 12 km oleh Purnnawarman di tahun ke-22 masa pemerintahannya.

Penggalian sungai itu menjadi gagasan, buat menghindari bencana alam berupa banjir yang sering terjadi pada masa pemerintahan Purnnawarman dan kekeringan yang terjadi pada musim kemarau.

Pada tanggal 4 Maret 1879, Prasasti tugu ini menjadi peninggalan Kerajaan Tarumanegara atau Tarumanagara yang terpanjang.

Prasasti Tugu ditemukan di Kampung Batutumbuh, Desa Tugu. Kini lokasi penemuan masuk ke dalam wilayah Kelurahan Tugu Selatan, Kecamatan Koja, Jakarta Utara.

Saat ditemukan, prasasti ini terkubur di bawah tanah. Cuma bagian puncak prasasti yang terlihat di permukaan tanah setinggi sekitar 10 cm.


5. Prasasti Cidanghiang

Prasasti Cidanghiang

Prasasti Cidanghiang jadi salah satu peninggalan Kerajaan Tarumanegara sampai saat ini masih dan berlokasi di Desa Lebak, Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.

Saat ini pengelolaan prasasti dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Serang. Keberadaan Prasasti Cidanghiang pertama kali berasal dari laporan kepala Dinas Purbakala Toebagoes Roesjan pada 1947.

Pada 1954, ahli epigrafi dari Dinas Purbakala datang ke tempat prasasti ini ditemukan yaitu di tepi Sungai Cidanghiang, Lebak, Munjul, Pandeglang.

Prasasti Cidanghiang dipahatkan pada batu andesit berukuran 3 x 2 x 2 meter, tulisan sebanyak 2 baris dalam aksara Pallawa, berbahasa Sansekerta, dan dengan metrum anustubh.

Beberapa bentuk huruf pada prasasti Cidanghiang ini mirip sekali dengan huruf yang dipahatkan pada Prasasti Tugu.

Saat ini, huruf Prasasti Cidanghiang yang berukuran relatif besar masih cukup jelas terbaca, walaupun beberapa udah menampakkan keausannya dan hampir seluruh permukaannya tertutup lumut.

Bagian atas sebelah kanan batu prasasti Cidanghiang ini udah pecah dan ada beberapa huruf yang hilang.


6. Prasasti Pasir Awi

prasasti pasir awi

Pada tahun 1864, ada seorang arkeolog berasal dari Jerman yang bernama N.W.Hoepermans. S yang pertama kali menemukan prasasti pasir awi ini.

Prasasti pasir awi ini ditemukkan di daerah Sukamakmur Jonggol, Bogor.

Pada prasasti pasir awi ini tertulis gambar ranting pohon dan juga buah yang dihiasi dengan sepasang telapak kaki raja Purnnawarman.

Tapi, sampai saat ini belum ada sejarawan atau peneliti yang bisa mengartikan isi dari prasasti pasir awi tersebut.


7. Prasasti Muara Cianten

prasasti muara ciaten

Pada tahun 1864, prasasti Muara Cianten ini pertama kali dilaporkan oleh sorang arkeolog bernama N.W. Hoepermans yang berasal dari Jerman.

Kemudian, disusul oleh beberapa laporan dari J.F.G Brumund (1868), P.J Veth (1878), R.D.M. Verbeek (1889, 1891), C.M. Pleyte (1905/1906), G.P Rouffaer (1909), dan N.J. Krom (1915).

Prasasti Muara Cianten masih insitu dan ada tepi Sungai Cianten, di Desa Ciaruteun, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor.

Prasasti Muara Cianten dituliskan pada batu andesit berbentuk hampir lonjong (oval) dengan ukuran 2,7 x 1,4 x 1,4 meter.

Prasasti ini bertuliskan huruf ikal atau huruf sangkha, seperti yang dipakai pada Prasasti Ciaruteun-B dan Prasasti Pasir Awi.

Prasasti Muara Cianten jadi salah satu peninggalan Kerajaan Tarumanegara dalam kondisi kurang baik dan terawat. Selain itu, kondisi pahatan juga udah aus.

Isi dari Prasasti Muara Cianten hingga kini belum diketahui karena tulisan yang terdapat di prasasti ini belum dapat dibaca.


Nah, itulah beberapa bukti peninggalan dari Kerajaan Tarumanegara yang banyak sekali orang belum mengetahuinya.

Semoga dengan adanya pembahasan diatas, kamu bisa mengetahui bukti atau prasasti – prasasti peninggalan kerajaan Tarumanegara tersebut 😀

Beri konten ini 5 bintang dong
[Total: 0 Average: 0]
Avatar
Aditya Rangga

Pelajar yang insyaallah tidak pelit ilmu.

Update : 7 November 2020 - Published : 10 Juni 2020