Pernah gak sih, kamu mencari-cari apa itu Reaktansi listrik? Penasaran apa yang dimaksud dengan Reaktansi listrik?
Yuk langsung aja simak ke pembahasannya paling lengkap berikut dibawah ini.
Pengertian Reaktansi Listrik
Reaktansi listrik yaitu hambatan yang terjadi pada arus bolak-balik (AC), atau tepatnya adalah perlawanan sebuah rangkaian atau sirkuit elektronika terhadap perubahan tegangan atau arus listrik karena adanya induktansi atau kapasitansi.
Dasarnya, reaktansi listrik hampir sama dengan resistansi atau hambatan listrik dan satuan dalam pengukurannya juga sama, yaitu Ohm (Ω).
Bedanya antara reaktansi dan resistansi yaitu nilai reaktansi cuma bisa diukur saat dialiri listrik arus bolak-balik (AC). Kenapa? Karena, reaktansi cuma terjadi saat adanya perubahan tegangan atau arus listrik pada sebuah tegangan.
Sedangkan, pada arus listrik searah (DC) nilai tegangan dan arus listriknya tetap atau konstan, jadi gak terjadi reaktansi pada rangkaian tersebut.
Jenis – Jenis Reaktansi
Dibawah ini ada dua jenis reaktansi yaitu reaktansi induktif dan reaktansi kapasitif, berikut penjelasannya.
1. Reaktansi Induktif
Reaktansi induktif yaitu hambatan yang terjadi akibat dari adanya gaya gerak listrik (GGL) induksi yang muncul pada sebuah induktor yang dialiri arus bolak-balik (AC).
Gaya gerak listrik (GGL) yang muncul pada induktor punya arah yang berlawanan dengan arus yang mengalir, jadi menahan gerak arus listrik yang mengalir.
Besarnya nilai reaktansi induktif berbanding lurus dengan arus listrik (A), frekuensi dan induktansinya.
Induktor yaitu suatu komponen elektronika pasif, yang bisa menimbulkan medan magnet saat dialiri arus listrik dan mampu menyimpan listrik dalam waktu yang relatif singkat.
Sebuah induktor biasanya, sebuah gulungan kawat seperti kumparan pada trafo (kumparan trafo juga bisa disebut induktor).
2. Reaktansi Kapasitif
Reaktansi kapasitif yaitu hambatan pada kapasitor yang dilewati oleh arus listrik bolak-balik (AC).
Kapasitor bisa diibaratkan sebuah baterai dengan kapasitas kecil yang bisa menyimpan energi listrik berdasarkan beda potensial pada kedua kutubnya (anoda dan katoda).
Jadi, saat dialiri arus searah (DC) maka arus cuma akan mengalir selama proses pengisian dan berhenti mengalir saat kapasitor udah penuh (Full).
Sedangkan, saat dialiri arus bolak-balik (AC) maka arus akan berhenti sementara masuk kedalam kapasitor kemudian akan mengalir kembali.
Pada kapasitor atau baterai, gak akan pernah mencapai kondisi penuh (Full Charger) saat dialiri arus bolak-balik dan cuma bersifat sebagai penghambat aliran arus listrik aja.
Nilai reaktansi kapasitif berbanding terbalik dengan besar frekuensi arus listrik yang mengalir. Pada arus DC, nilai frekuensinya bisa dikatakan (0), jadi nilai reaktansinya yaitu gak terhingga atau full resistan.
Rumus Reaktansi Listrik
1. Rumus Reaktansi Kapasitif
Buat mengetahui nilai kapasitif pada kapasitor murni, kamu bisa memakai persamaan yang ada dibawah ini:
Xc = 1/2.π.f.C
Keterangan:
- Xc = Reaktansi kapasitif (Ω)
- ƒ = Frekuensi (Hz)
- π = 3,14 atau 22/7
- C = Nilai kapasitas kapasitor (F)
Kalo suatu kapasitor dirangkai secara seri dengan resistor pada rangkaian arus bolak-balik, maka buat mengetahui nilai impedansi bisa memakai persamaan ini:
Keterangan:
- Z = Impedansi (Ω)
- R = Hambatan resistor atau resistansi (Ω)
- Xc = Reaktansi kapasitor (Ω)
Kalo suatu kapasitor dirangkai secara paralel dengan resistor pada rangkaian arus bolak-balik, maka buat mengetahui nilai impledansi bisa memakai persamaan dibawah ini:
Keterangan:
- Z = Impedansi (Ω)
- R = Hambatan resistor atau resistansi (Ω)
- Xc = Reaktansi kapasitif (Ω)
2. Rumus Reaktansi Induktif
Buat mengetahui nilai reaktansi induktif, kamu bisa memakai persamaan yang ada dibawah ini:
XL =2.π.ƒ.L
Keterangan:
- XL = Reaktansi induktif (Ω)
- ƒ = Frekuensi (Hz)
- π = 3,14 atau 22/7
- L = Nilai induktansi induktor (H)
Kalo suatu induktor dirangkai secara seri dengan resistor pada rangkaian arus bolak-balik, maka buat mengetahui nilai impedansi bisa memakai persamaan ini:
Keterangan:
- Z = Impedansi (Ω)
- R = Hambatan resistor atau resistansi (Ω)
- XL = Reaktansi induktif (Ω)
Kalo suatu induktor dirangkai paralel dengan resistor pada rangkaian arus bolak-balik, maka buat mengetahui nilai impedansi bisa memakai persamaan berikut ini:
Keterangan:
- Z = Impedansi (Ω)
- R = Hambatan resistor atau resistansi (Ω)
- XL = Reaktansi induktif (Ω)
Contoh Soal Reaktansi Listrik
1. Sebuah Koil yang berinduktansi 200mH dihubungkan ke tegangan AC 220V dengan frekuensi 60Hz. Berapakah nilai Reaktansi Induktif dan besar aliran arus listriknya?
Jawaban:
Diketahui:
- L = 200mH
- F = 60Hz
Ditanya: XL dan I =?
Jawab:
a. Mencari reaktansi induktifnya:
- XL = 2πfL
- XL = 2 x 3,142 x 60 x 0,2
- XL = 75,41Ω
b. Mencari arus listriknya:
- I = V / XL
- I = 220 / 75,41
- I = 2,92A
Jadi, nilai reaktansi induktifnya adalah 75,41 Ω dan arus listriknya adalah 2,92 Ω
2. Hitunglah Reaktansi Kapasitif pada Kapasitor yang bernilai 330nF pada frekuensi 500Hz dan 10kHz.
Jawaban:
Diketahui:
- C = 330nF
- f = 500Hz dan 10kHz
Ditanya:
- Reaktansi Kapasitor 330nF pada Frekuensi 500Hz?
- Reaktansi Kapasitor 330nF pada Frekuensi 10kHz?
Dijawab:
a. Mencari Reaktansi Kapasitor 330nF pada Frekuensi 500Hz:
- Xc = 1 / 2πfC
- Xc = 1 / (2 x 3,142 x 500 x (330 x 10-9))
- Xc = 964,45 Ohm
b. Mencari Reaktansi Kapasitor 330nF pada Frekuensi 10kHz:
- Xc = 1 / 2πfC
- Xc = 1 / (2 x 3,142 x 10000 x (330 x 10-9))
- Xc = 48,22 Ohm
Jadi, nilai reaktansinya akan menjadi lebih rendah yaitu dari 964,45 Ohm menjadi 48,22 Ohm.
Waahhh, udah selesai nih pembahasan mengenai Reaktansi Listrik yang ada diatas tadi. Gimana? Mudah dipahami kan?
Nah, kalo ada pertanyaan atau dari pembahasan diatas ada yang kurang, kamu bisa tulis aja dikolom komentar yang ada dibawah ini.