Tata Cara Mandi Junub

Mandi Junub adalah mandi yang dilakukan untuk mensucikan diri dari hadast besar yang menempel dalam tubuh.

Biasannya mandi besar ini dilakukan karena keluarnnya nifas, keluarnnya air mani baik karena berhubungan badan atau tidak, dan juga selesainnya masa haid bagi seorang wanita.

Didalam Al Quran banyak dijelaskan mengenai perintah dari Mandi besar atau mandi junub ini, diantarannya terdapat didalam Al Quran Surah Al Maidah : 6

وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا

Dan jika kamu junub maka mandilah …” (QS. Al-Maidah: 6).

Dalam ayat diatas Allah tidak merincikan bagian tubuh mana yang perlu di siram, melainkan menjadikan seluruh anggota badan untuk bersuci.

Dan berikut adalah tata cara mandi junub yang bisa anda lakukan :


Rukun Mandi Besar

Rukun mandi besar ada dua hal yang harus di penuhi :

  1. Niat
  2. Menyiram keseluruh tubuh

Setelah 2 rukun tersebut terpenuhi anda bisa melakukan mandi wajib dengan tata cara sebagai berikut :


Tata Cara Mandi Junub

Tata cara mandi junub ini di terangkan dalam 2 hadits :

1. HR. Bukhari, no 248 & Muslim, no. 316

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa nabi shalallahu alaihi wa sallam ketika mandi junub beliau memulainya dengan mencuci keuda telapak tangannya, kemudian berwudhu sebagaimana hendak shalat.

Lalu beliau membersihkan sela sela jarinnya dengan memasukan kedalam air, lalu menggosokan ke kulit kepalannya, kemudian menyiramkan air diatas kepalannya sebanyak 3x, baru setelah itu beliau menyiramkan air keseluruh tubuh dan kulitnnya. (HR. Bukhari. no 248 & Muslim, no 316)

Dari hadist diatas bahwa bisa kita simpulkan tata cara mandi junub nabi shalallahu alaihi wa sallam yang pertama :

  1. Mencuci kedua telapak tangan
  2. Berwudhu (sebagaimana hendak sholat)
  3. Membersihkan sela sela jari
  4. Menggosok kulit kepala dan rambutnnya
  5. Mengaliri air keseluruh tubuh.

2. HR Bukhari. no 265 & Muslim, no 317

Dari Ibnuabbas radhiyallahu anhuma, bahwa maimunah radhiyallahu anha pernah mengatakan,

“Aku pernah meneyediakan air mandi kepada Rasulullah, lalu beliau menuangkan air kepada kedua tagannya dan mencuci kedua tangannya sebanyak 2 kali atau 3 kali dimulai dengan tengan sebelah kanan kemudian kiri,

Setelah itu beliau mengambil Air dengan tangan kirinnya dan mencuci kemaluannya, kemudian beliau menggoskan tangan ke tanah dan berkumur kumur, kemudian beliau memasukan air kedalam hidung sebagaimana ber istinsaq, baru beliau membasuh mukannya dengan telapak tangannya, membasuh kepalannya sebanyak 3x dan setelah itu beliau menyiramkan air keseluruh tubuh dan badannya.

Kemudian beliau bergeser dari tempat sebelumnnya utnuk mencuci kedua telapak kakinya ditempat yang berbeda (HR. Bukhari, no 265 & Muslim, no 317)

Berbeda dengan hadist yang diriwayatkan Aisyah radhiyallahu anha diatas, bahwa hadist yang diriwayatkan oleh Maimunah yang juga adalah salah satu istri Rasulullah, beliau shalallahu alaihi wa sallam memulai mandi wajibnnya dengan :

  1. Mencuci Kedua Telapak Tangan
  2. Membersihkan kemaluan
  3. Berkumur kumur
  4. Beristinsaq atau memasukan air kedalam hidung
  5. Membasuh wajah
  6. Membersihkan tangan
  7. Membasuh kepala dan rambutnnya
  8. Mengaliri air kesuluruh tubuh.

Mana yang lebih Raj’i ? mana yang lebih shahih ? dua dunnya karena dua duannya di riwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.


Tata Cara Mandi Junub Setelah Haidh

Asma radhiyallahu anha pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengenai tata cara mandi junubnya seorang wanita yang telah selesai dari masa Haidh dirinnya,

Maka beliau shalallahu alaihi wa sallam bersabda :

Ambilah air dan daun bidara, lalu bersucilah dengan sebaik baiknya bersuci, kemudian siramkan air pada kepalamu dengan menggosok gosok hingga ke akar rambut kepalamu, kemudian siramlah kepalamu dengan air, dan ambilah kapas bermisk, lalu bersucilah dengannya.

Kemudian Asma radhiyallahu anha bertanya kembali kepada Rasulullah, “Bagaimana ia bisa dikatakan suci dari haidhya ya Rasulullah ?

Maka beliau bersabda :

“Subhanallah, bersucilah kamu dengannya, “Kemudian Aisyah berkata “Bersihkanlah sisa sisa darah haidh tadi dengan kapas bermisk” (HR. Bukhari no 314 & Muslim no.332)

Perbedaan mandi junub biasa karena mungkin keluarnya air mani atau hal lainnya dengan mandi junub setelah haidh itu ada 2 hal :

  1. Mandi junub setelah haid menggunakan sabun & pembersih lainnya untuk membersihkan sisa sisa darah haidh.
  2. Menyiram air hingga ke dasar akar rambut.

Apakah mandi junub selalu dengan menggunakan air dingin ? Lalu bagaimana orang yang didataran tinggi yang memiliki hawa dingin yang ingin melakukan mandi junub tetapi hawanya sangat dingin dan airnya sangat dingin bahkan sudah memasuki siang hari ?

Allah subhanahu wa ta’alla berfirman :

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.

QS. Al-Baqarah: 185

Niat Mandi Wajib

Salah satu perbedaan mandi biasa dengan mandi junub adalah niat, apakah niat ini perlu dilafadzkan agau tidak ? Jawabannya tidak.

Sebagaimana yang pernah disampaikan oleh guru kami “Ustadz Abdul Somad Lc Ma” bahwa niat itu adalah amalan hati, jadi tidak perlu di lafadzkan.

Namun apabila hendak dilafadzkan untuk membuat diri semakin yakin maka itu tak mangapa, adapun niat mandi junub adalah sebagai berikut :

1. Bacaan Niat Mandi Junub

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَكْبَرِ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى

Nawaitul Ghusla Lifrafil Hadatsil Akbari Fardhan Lillahi Ta’aala.”

Artinya : “Aku berniat mandi besar untuk menghilangkan hadast besar fardhu karena Allah ta’aala.”

2. Bacaan Niat Mandi Junub Setelah Haidh

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ حَدَثِ الْحَيْضِ ِللهِ تَعَالَى

“Nawaitul Ghusla Lifraf il Hadatsil Haidil Lillahi Ta’ala.”

Artinya :“Aku niat mandi wajib untuk mensucikann hadast besar dari haid karena Allah Ta’ala.”

3. Bacaan Niat Mandi Junub Setelah Nifas

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ حَدَثِ النِّفَاسِ ِللهِ تَعَالَى

“Nawaitul Ghusla Liraf il Hadatsil Nifasi Lillahi Ta’ala.”

Artinya : “Aku niat mandi wajib untuk mensucikan hadast besar dari nifas karena Allah ta’ala”

Niat diatas boleh dibacakan boleh tidak pada saat melakukan mandi junub, karena niat diatas bukan diajarkan oleh Nabi Shalallalhu alaihi wa sallam.

Kembali kepada hukum asal niat adalah Al Qasdhu (Sebuah keinginan didalam hati).

Apabila kita hendak melakukan mandi junub meskipun kita tanpa membaca niat diatas tetapi sudah ada keinginan didalam hati maka itu sudah termasuk niat.


Daftar Pustaka :

  1. Rumayhso.com Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal MSc “Tata Cara Mandi Wajib 1”
  2. Rumayhso.com Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal MSc “Cara Mandi Junub yang Paling Ringkas”
  3. Rumayhso.com Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal MSc “Safinatun Najah: Rukun Mandi dan Cara Mandi Junub secara Lengkap”

Avatar
Riki Ramdhani

Mahasiswa Pendidikan Agama Islam di Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Founder salah satu program kemanusiaan terbaik di Purwokerto, Musharaka Project.

Update : 26 Juli 2020 - Published : 26 Juli 2020

       

Tinggalkan komentar