Konflik Internal

Sebelum masuk ke pembahasan apa itu konflik internal, lebih dulu kita definisikan apa itu konflik.

Konflik merupakan pertentangan, perselisihan, dan percekcokan yang terjadi antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok.

Dari sini kemudian konflik dibagi menjadi dua, yakni internal dan eksternal.


Pengertian Konflik Internal

Konflik terbagi menjadi dua, yakni internal dan eksternal.

Untuk konflik internal, artinya konflik atau permasalahan tersebut terjadi karena faktor dari dalam.

Apabila konfliknya mengenai diri sendiri maka penyebab konflik adalah diri sendiri.

Apabila konflik tersebut terjadi pada tubuh perusahaan maka penyebab konflik tersebut ialah internal perusahaan, seperti sistem atau karyawan dan bos-bosnya.


Macam-macam Konflik Internal Berdasarkan Pelakunya

Konflik internal bisa terjadi pada siapa saja.

Jika dibedakan berdasarkan pelakunya maka kita akan menemui bahwa konflik internal terbagi menjadi:

1. Konflik Personal

Konflik personal adalah konflik yang menimpa individu dengan individu lainnya.

Dalam ruang lingkup kelompok atau perusahaan, konflik ini bisa menimpa karyawan dengan karyawan atau antara karyawan dengan bos.

Berbagai faktor bisa menjadi penyebabnya, misalnya kepribadian yang bertolak belakang satu sama lain, komunikasi yang tidak baik, atau sistem kepemimpinan yang buruk.

2. Konflik Intragrup

Berbeda dengan konflik personal, konflik internal lainnya dalam perusahaan dikenal juga dengan sebutan konflik intragrup.

Konflik intragrup terjadinya karena ketidakharmonisan dalam satu divisi.

Penyebabnya bisa beragam, seperti job desk yang tidak merata, senioritas, atau bahkan tidak adanya cukup waktu dan ruang guna mengutarakan pendapat.

Biasanya dalam kasus seperti ini semua saling menyalahkan.

3. Konflik Intergrup

Konflik intergrup, yakni konflik yang terjadi antara divisi dengan divisi.

Konflik yang terjadi antara divisi satu dengan divisi lain paling besar disebabkan oleh persaingan.

Komunikasi yang tidak baik dapat menjadi penyebab lain terjadinya konflik intergrup.

Misalnya, dalam dunia penerbitan terjadi konflik antara divisi redaksi dengan divisi marketing.

Konflik yang terjadi ini bisa disebabkan oleh kurangnya komunikasi antara kedua belah pihak sehingga masing-masing merasa dirugikan.

Padahal dalam suatu perusahaan, meskipun antar divisi ingin saling menunjukkan prestasinya, namun tidak dibenarkan apabila semangat bersaing itu dijadikan alat untuk saling menjatuhkan.


Faktor Penyebab Konflik internal dalam Organisasi atau Perusahaan

Berbagai konflik yang terjadi dalam tubuh perusahaan memang tidak bisa dihindari.

Ada berbagai sebab kenapa konflik selalu terjadi, sekecil apa pun.

Sebab-sebab konflik itu diantaranya:

1. Romantisme Dunia Kerja

Tidak dapat dipungkiri kamu akan menemukan beberapa atau bahkan mungkin kamu sendiri mengalami jatuh cinta dengan sesama rekan kerja.

Hal ini wajar dan beberapa perusahaan akan membiarkannya selama kedua pihak masih bias bersikap profesional.

Namun, akan berbeda ceritanya jika romantisme tersebut menimbulkan konflik sehingga timbullah kerugian bagi perusahaan.

2. Kebijakan yang Berganti

Kebijakan yang berganti adalah penghapusan kebijakan lama dengan alasan tertentu yang menimbulkan pengesahan kebijakan baru.

Konflik yang terjadi akibat hal ini karena dibutuhkan adaptasi kembali untuk kebijakan baru tersebut.

Semua pihak yang sudah terbiasa dengan kebijakan lama akan membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan kebijakan yang baru.

3. Kesempatan Berkembang Tidak Sama

Potensi dari masing-masing karyawan di setiap perusahaan itu berbeda-beda.

Ada yang sudah lama bekerja namun tetap di posisi yang sama.

Ada  pula yang baru masuk kerja sudah melesat naik jabatannya.

Hal seperti ini tidak dapat dipungkiri akan menimbulkan konflik satu sama lain.

Hal yang disayangkan adalah alih-alih saling mengupgrade diri, justru semakin menutup kesempatan berkembang.

4. Senioritas

Bukan hanya di dunia sekolah atau kampus, salah satu konflik internal perusahaan juga bisa terjadi akibat adanya senioritas.

Hal ini tentu saja tidak dibenarkan, namun seakan sudah menjadi watak beberapa senior kantor untuk memandang rendah juniornya.

Hal yang paling parah ialah apabila atas dalih senior, beberapa pihak malah menugaskan banyak pekerjaan kepada junior.

5. Ketidakjelasan Job Description

Penyebab konflik yang satu ini biasanya mudah terjadi pada perusahaan-perusahaan yang belum kokoh berdiri.

Mereka masih meraba-raba dan masih melakukan penyesuaian dengan bidang yang dijalani.

Proses ini melalui jalan panjang, seperti double job pada karyawannya atau bekerja hingga larut malam, namun sama sekali tidak mendapatkan uang tambahan.

6. Bullying

Bullying di era sekarang ini semakin terekspos karena semakin beraninya korban atau orang-orang di sekitar korban yang berani speak up.

Bullying di dunia kerja bisa berbentuk banyak hal, diantaranya bisa dalam bentuk bullying verbal dan non verbal.

Permasalahan akibat bullying akan semakin parah jika tidak ada peran atasan untuk menjadi penengah.

7. Tindakan Pasif Agresif

Terakhir, penyebab konflik internal perusahaan adalah pasif agresif, artinya sabotase.

Tindakan ini merupakan tindakan yang paling tidak menguntungkan pihak tertentu.

Contoh perilaku ini ialah ketika muncul sebuah kesalahan, maka akan ada seseorang yang dijadikan kambing hitam.


Cara Mengatasi Konflik internal Organisasi atau Perusahaan

Konflik, baik itu internal dan eksternal perusahaan sama sekali tidak bisa dihindarkan.

Namun, berbagai konflik tersebut selalu memiliki cara penyelesaian.

Jika suatu saat kamu menghadapi konflik di perusahaan, ingat-ingat bahwa ada penyelesaian yang dapat dilakukan, diantaranya:

1. Perubahan Menyeluruh

Cara penyelesaian konflik internal ini merupakan tindakan paling besar akibat sudah memburuknya permasalahan yang terjadi.

Perubahan yang menyeluruh ini bisa berkaitan dengan aturan, tata kerja, konsekuensi, dan berbagai hal lainnya lagi yang dirasa sudah tidak relevan serta menimbulkan konflik.

2. Konfrontasi Terkontrol

Penyelesaian lainnya yang dapat dilakukan untuk menuntaskan konflik adalah konfrontasi terkontrol, ini artinya diskusi yang diawasi.

Dalam hal ini kedua belah pihak yang berkonflik akan saling dipertemukan untuk menyelesaikan masalah.

Diantara kedua belah pihak akan dimunculkan pihak ketiga sebagai penengah.

Pihak ketiga tersebut bisa karyawan, manajer, atau pihak yang jabatannya lebih tinggi.

3. Intervensi

Cara penyelesaian konflik lain yang bisa dilakukan adalah intervensi, artinya penyelesaian konflik oleh manajer atau atasan yang tidak terlibat dalam permasalahan tersebut.

Perlu digarisbawahi bahwa dalam tindakan intervensi, pihak ketiga tidak terlibat dalam permasalahan yang terjadi.

4. Konseling

Tindakan konseling dapat pula dilakukan untuk mengatasi konflik.

Tindakan ini merupakan tindakan paling halus.

Adapun contoh tindakannya adalah membiarkan pihak yang terkait untuk mengeluarkan keluh kesahnya.

Pihak yang mendengarkan nantinya akan memberikan tanggapan berupa masukan untuk menyelesaikan masalah.


Kita sudah mengetahui apa itu konflik internal.

Sedikit saja mengenai konflik eksternal, yakni permasalahan yang timbul dari luar perusahaan atau suatu kelompok.

Bisa datang dari perusahaan pesaing atau lingkungan social.

Konflik internal maupun konflik eksternal sama-sama berdampak tidak baik bagi perusahaan karena dapat merugikan dan mengganggu stabilitas perusahaan itu sendiri.

Berbagai konflik perusahaan bisa terjadi atas berbagai sebab.

Alih-alih memusingkan sebabnya, sebaiknya konflik diselesaikan dengan tepat.

Konfiik yang terjadi, baik itu konflik internal maupun konflik eksternal akan memengaruhi produktivitas perusahaan sehingga harus cepat diselesaikan.

Avatar
Vira Mahdiya

Saya mendalami Ilmu Pengetahuan Sosial sewaktu SMA dan sekarang Alhamdulillah menjadi mahasiswi di salah satu universitas favorit di Yogyakarta

Update : 26 Juni 2020 - Published : 26 Juni 2020