Dampak Politik Etis

Yuk simak pembahasan mengenai dampak politik etis berikut pada artikel dibawah ini!


 

 

Pengertian Politik Etis

Pengertian Politik Etis

Politik etis ini muncul pada tahun 1890, atas desakan golongan liberal dalam parlemen Belanda.

Apa sih itu politik etis? Jadi,

Politik etis atau politik balas budi yaitu suatu pemikiran yang menyatakan kalo pemerintah kolonial memegang tanggung jawab moral bagi kesejahteraan pribumi.

Pemikiran tersebut merupakan kritik terhadap politik tanam paksa pada waktu itu.

Mereka yang berhaluan progresif tersebut memberikan usulan, supaya pemerintah Belanda memberikan perhatian pada masyarakat Indonesia yang udah bersusah payah mengisi keuangan negara Belanda melalui program tanam paksa.

Baca juga : Tujuan Kedatangan Bangsa Spanyol di Indonesia

Desakan itu muncul dari pemikiran kalo negeri Belanda udah berhutang banyak atas kekayaan bangsa Indonesia yang dinikmati oleh bangsa Belanda.

Pada tahun 1901, politik etis mulai diadakan yang berisi 3 tindakan, yaitu:

Edukasi (Pendidikan), Irigasi (Pengairan), dan Transmigrasi (Perpindahan Penduduk).

Pencetus politik etis atau politik balas budi yaitu C.Th. van Deventer yang merupakan seorang politikus.

Van Deventer memperjuangkan nasib bangsa Indonesia dengan menulis karangan dalam majalah De Gids yang berjudul Eeu Eereschuld (Hutang Budi).

Van Deventer menjelaskan, kalo Belanda udah berhutang budi pada rakyat Indonesia. Hutang budi itu, harus dikembalikan dengan memperbaiki nasib rakyat, mencerdaskan, dan memakmurkan.


 

 

Latar Belakang Politik Etis

Latar Belakang Politik Etis

Berikut ini, ada beberapa latar belakang dari politik etis, diantaranya yaitu:

  • Sistem tanam paksa memunculkan penderitaan rakyat Indonesia.
  • Sistem ekonomi liberal tidak dapat memperbaiki kesejahteraan rakyat.
  • Belanda memberi penekanan dan penindasan kepada rakyat.
  • Rakyat kehilangan tanahnya.
  • Terdapat kritik dari kaum intelektual Belanda sendiri.

 

 

Tokoh Politik Etis di Indonesia

Tokoh Politik Etis di Indonesia

Dibawah ini, beberapa tokoh-tokoh Belanda yang mewarnai politik etis di Indonesia, yaitu:

  • P. Brooshoof yaitu redaktur surat kabar De Lokomotif, yang ada pada tahun 1901 menulis buku berjudul De Ethische Koers In de Koloniale Politiek (Tujuan Ethis dalam Politik Kolonial).
  • F. Holle yaitu tokoh yang banyak sekali membantu kaum tani di Indonesia.
  • Van Vollen Hoven yaitu tokoh yang memperdalam hukum adat pada beberapa suku bangsa di Indonesia.
  • Abendanon yaitu tokoh yang banyak memikirkan soal pendidikan penduduk pribumi.
  • Leivegoed yaitu seorang jurnalis yang banyak menulis tentang rakyat Indonesia.
  • Van Kol yaitu tokoh yang banyak menulis tentang keberadaan pemerintahan Hindia Belanda.
  • Douwes Dekker (Multatuli) yaitu dalam bukunya yang berjudul Max Havelaar berisi tentang kritikan terhadap pelaksanaan tanam paksa di Lebak, Banten.

 

 

Tujuan dan Manfaat Politik Etis

Tujuan dan Manfaat Politik Etis

Ada beberapa tujuan utama dari sebuah politik etis atau politik balas budi, diantaranya yaitu:

  • Meningkatkan Edukasi dalam menyelenggarakan pendidikan.
  • Membuat Irigasi yang tujuannya buat membangun sarana dan jaringan pengairan.
  • Transmigrasi dan imigrasi yaitu buat mengorganisasi perpindahan penduduk.

Sedangkan, ada beberapa manfaat yang bisa kamu ambil dari politik etis tersebut, yaitu:

  • Munculnya kalangan terpelajar.
  • Irigasi banyak diperbaiki.
  • Hasil produksi meningkat.
  • Persebaran penduduk ke berbagai tempat.

 

 

Isi Politik Etis

Berikut dibawah ini, ada beberapa isi dari politik etis itu sendiri, yaitu:

1. Edukasi (Pendidikan)

Edukasi (Pendidikan)

Pendidikan diberikan di sekolah kelas satu pada anak-anak pegawai negeri dan orang yang berkedudukan atau berharta.

Di tahun 1903, ada 14 sekolah kelas satu di ibukota karesidenan dan ada 29 di Ibukota Afdeling dengan mata pelajaran yang diajarkan seperti membaca, menulis, berhitung, ilmu bumi, ilmu alam, sejarah, dan menggambar.

Pendidikan kelas dua dikhususkan buat anak-anak pribumi golongan bawah. Pada 1903, di Jawa dan Madura udah ada 245 sekolah kelas dua negeri dan 326 sekolah Fartikelir, diantaranya 63 dari Zending.

Pada tahun 1892, jumlah muridnya ada 50.000 dan pada tahun 1902 ada 1.623 anak pribumi yang belajar pada sekolah Eropa.

Buat jadi calon pamong praja ada tiga sekolah Osvia, masing-masing di Bandung, Magelang, dan Probolinggo.

Nama-nama sekolah buat anak-anak Eropa dan anak kaum pribumi, diantaranya yaitu:

  • HIS (Hollandsch Indlandsche School) setara SD
  • MULO (Meer Uitgebreid Lagare Onderwijs) setara SMP
  • AMS (Algemeene Middlebare School) setara SMU
  • Kweek School (Sekolah Guru) untuk kaum bumi putra
  • Technical Hoges School (Sekolah Tinggi Teknik) di Bandung. Pada tahun 1902, didirikan sekolah pertanian di Bogor (sekarang IPB).

 

2. Irigasi (Pengairan)

Irigasi (Pengairan)

Sarana vital buat pertanian yaitu pengairan, oleh pihak pemerintah udah dibangun sejak 1885 seluas 96.000bau buat irigasi Berantas dan Demak, pada 1902 luasnya menjadi 173.000bau.

Dengan irigasi tanah pertanian tersebut, maka tanah pertanian di Indonesia akan menjadi subur dan produksinya bertambah.

 

3. Transmigrasi (Perpindahan Penduduk)

Transmigrasi (Perpindahan Penduduk)

Dengan adanya transmigrasi tanah-tanah di luar Jawa yang belum diolah jadilaha perkebunan, maka akan bisa diolah buat menambah penghasilan.

Selain itu, juga bisa buat mengurangi kepadatan penduduk di pulau Jawa pada saat itu.

Di tahun 1865, jumlah penduduk di Jawa dan Madura sebanyak 14 juta jiwa orang dan di tahun 1900 udah berubah menjadi 2 kali lipat.

Pada awal abad ke-19, terjadi imigrasi dari Jawa Tengah ke Jawa Timur karena, dengan adanya perluasan perkebunan tebu dan tembakau.

Migrasi penduduk dari Jawa ke Sumatera Utara, karena adanya permintaan besar akan tenaga kerja perkebunan di Sumatera Utara, terutama di Deli.

Sedangkan, kalo migrasi penduduk dari Jawa ke Lampung yaitu mempunyai tujuan buat menetap, bukan soal pekerjaan.


 

 

Penyimpangan Politik Etis

Penyimpangan Politik Etis

1. Penyimpangan dalam Bidang Edukasi

Pembangunan sekolah-sekolah yang dilakukan oleh pemerintah Belanda. Tapi, pendidikan ini ditujukan buat mendapatkan tenaga administrasi yang cakap dan murah.

Pendidikan yang di buka buat seluruh rakyat, cuma diperuntukan buat anak pegawai negeri dan orang yang mampu.

Terjadi diskriminasi pendidikan yaitu pengajaran di sekolah kelas I buat anak pegawai negeri dan orang yang berharta dan di sekolah kelas II kepada anak pribumi dan umum.

 

2. Penyimpangan dalam Bidang Irigasi

Pelaksanaan pengairan cuma ditujukan pada tanah-tanah yang subur buat perkebunan swasta Belanda. Sedangkan, milik rakyat gak dialiri air dari irigasi.

Dalam bidang irigasi (pengairan) diadakan pembangunan dan perbaikan. Tapi, pengairan tersebut gak ditujukan buat pengairan sawah dan ladang milik rakyat, tapi buat mengairi perkebunan milik swasta asing dan pemerintah kolonial.

 

3. Penyimpangan dalam Bidang Transmigrasi

Migrasi ke daerah luar Jawa cuma ditujukan ke daerah-daerah yang dikembangkan perkebunan milik Belanda.

Karena, adanya permintaan yang besar akan tenaga kerja di daerah perkebunan seperti perkebunan di Sumatera Utara, khususnya di Deli, Suriname, dan lain sebagainya.

Migrasi ke Lampung bertujuan menetap. Karena, migrasi ditujukan buat memenuhi kebutuhan akan tenaga kerja, maka gak jarang banyak yang melarikan diri.

Buat mencegah agar pekerja gak melarikan diri, pemerintah Belanda mengeluarkan Poenale Sanctie, yaitu peraturan yang menetapkan kalo pekerja yang melarikan diri akan dicari dan ditangkap polisi dan dikembalikan pada mandor atau pengawas.


 

 

Dampak Politik Etis Bagi Indonesia

Dampak Politik Etis Bagi Indonesia

Apa aja dampak dari politik etis bagi Indonesia? Berikut ini, ada beberapa dampaknya, simak yuk!

  • Pembangunan infrastruktur seperti pembangunan rel kereta api yang memperlancar perpindahan barang dan manusia.
  • Pembangunan infrastruktur pertanian dalam hal ini bendungan yang nantinya bermanfaat buat pengairan.
  • Berdirinya sekolah-sekolah, seperti Hollandsch Indlandsche School(HIS) setara SD buat kelas atas dan yang untuk kelas bawah dibentuk sekolah kelas dua, Meer Uitgebreid Lagare Onderwijs (MULO) setara SMP, Algemeene Middlebare School (AMS) setara SMU, Kweek School (Sekolah Guru) buat kaum bumi putra dan Technical Hoges School (Sekolah Tinggi Teknik), School Tot Opleiding Van Indische Artsen (STOVIA) sekolah kedokteran.
  • Adanya berbagai sekolah mengakibatkan munculnya kaum terpelajar atau cendikiawan yang nantinya menjadi pelopor Pergerakan Nasional, seperti Soetomo mahasiswa STOVIA mendirikan organisasi Budi Utomo.

Gimana? Mudah dipahami kan? Pembahasan mengenai dampak politik etis bagi Indonesia tersebut?

Semoga pembahasan tersebut bisa membantu dan bermanfaat buat kalian semua 😀

Avatar
Aditya Rangga

Pelajar yang insyaallah tidak pelit ilmu

Update : 17 Agustus 2020 - Published : 17 Agustus 2020

       

Satu pemikiran pada “Dampak Politik Etis”

Tinggalkan komentar