Akronim

Apa sih, yang dimaksud dengan akronim itu? 

Jadi begini, kepopuleran sebuah akronim itu bisa menyebabkan hilangnya kata yang diakronimkan.

Orang-orang cenderung menganggap bahwa dia bukan lagi sebuah akronim, melainkan sebuah kata. Kata dasar dari akronim itu lalu menjadi kabur.

Contohnya: Bisa kamu lihat dari populernya kata “tilang”. Banyak orang lupa kalo itu bukan kata, tetapi sebuah akronim.

Tilang seakan-akan jadi satu kata buat merepresentasikan salah satu sanksi dari polisi karena pelanggaran lalu lintas.

Padahal, kata “tilang” merupakan sebuah akronim dari dua kata, yaitu “bukti pelanggaran”.

Ingin tahu lebih lengkap? Makanya, langsung aja simak ulasannya yang ada dibawah ini yuk!


 

 

Pengertian Akronim

Pengertian Akronim

Akronim adalah kependekan yang berupa suatu gabungan dari huruf atau suku kata, atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata wajar.

Ada yang bilang, kalo kepopuleran dari sebuah akronim bisa menghilangkan kata yang diakronimkan.

Kebanyakan orang akan menganggap suatu kata-kata yang diakronimkan, bukan lagi sebuah akronim tapi udah jadi sebuah kata.

Kemudian akan menyebabkan kata dasar dari akronim tersebut menjadi kabur, bahkan bisa jadi hilang.

Selain itu, ada beberapa pengamat bahasa Indonesia mengkritik atas penggunaan akronim yang di nilai bisa mengganggu tatanan bahasa Indonesia.

Baca juga : Pengertian Cerita Pendek


 

 

Jenis Akronim

Jenis Akronim

Berikut dibawah ini, ada beberapa jenis-jenis dari sebuah akronim, diantaranya yaitu:

1. Akronim dari nama diri yang berupa dari gabungan huruf awal dari kata. Pada akronim ini, semuanya ditulis dengan huruf kapital dan tanpa tanda titik.

2. Akronim dari nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata. Jenis akronim ini, pada huruf awal ditulis dengan huruf kapital.

3. Akronim yang bukan nama diri, yang berupa gabungan dari gabungan huruf, suku kata, atau gabungan huruf dan suku kata dari deret. Jenis akronim ini, semua kata di tulis dengan huruf kecil.


 

 

Aturan Penulisan Akronim

Aturan Penulisan Akronim

Dalam penulisan atau pembuatan akronim, ada beberapa aturan yang gak boleh kamu abaikan, diantaranya yaitu:

  • Jumlah suku kata dalam sebuah akronim tidak boleh lebih dari kata yang udah lazim digunakan dalam bahasa Indonesia.
    Artinya : Tidak boleh lebih dari tiga suku kata.
  • Akronim dibuat dengan melihat sebuah keserasian antara vokal dan konsonan yang sesuai dengan pola kata bahasa Indonesia. Supaya lebih mudah buat diingat oleh siapapun.

Baca juga : Pengertian Artikel


 

 

Contoh Akronim

Contoh Akronim

Berikut dibawah ini, ada beberapa contoh dari akronim berdasarkan jenisnya, yaitu:

1. Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal unsur-unsur nama diri, adalah:

  • LIPI = Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
  • PASI = Persatuan Atletik Seluruh Indonesia
  • ABRI = Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
  • SIM = Surat Izin Mengemudi
  • STNK = Surat Tanda Nomor Kendaraan
  • BPKB = Buku Pemilik Kendaraan Bermotor

2. Akronim nama diri yang berupa singkatan dari beberapa unsur, ditulis dengan huruf awal kapital, adalah:

  • Kowani = Kongres Wanita Indonesia
  • Akabri = Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
  • Bulog = Bada Urusan Logistik
  • Bappenas = Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
  • Iwapi = Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia

3. Akronim bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata, adalah:

  • pemilu = pemilihan umum
  • jurdil = jujur dan adil
  • cekal = cegah dan tangkal
  • rapim = rapat pemimpin

Itulah beberapa penjelasan lengkap mengenai pengertian akronim beserta beberapa contohnya.

Gimana? Mudah dipahami kan pembahasan diatas tadi? Semoga bisa membantu dan bermanfaat.

Kalo ada kekurangan tentang penjelasan diatas atau pertanyaan, langsung aja tulis dikolom komentar dibawah ini yak 😀

Aditya Rangga

Pelajar yang insyaallah tidak pelit ilmu.

Update : 18 Mei 2021 - Published : 3 Januari 2021